BanjarmasinPost/

Serambi Ummah

H Akmad Sagir : Ceramah Zaman Now, Tak Harus Total Kekinian

Generasi ini sangat mahir dalam penguasaan teknologi, sehingga sangat berpengaruh ketika mereka mengikuti pengajian/ceramah agama.

H Akmad Sagir : Ceramah Zaman Now, Tak Harus Total Kekinian
Koran Serambi Ummah Edisi Jumat (15/12/2017) Halaman B 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Generasi milenial memiliki kekhasan tersendiri, mereka lahir pada saat TV berwarna, handphone juga internet sudah diperkenalkan. Generasi ini sangat mahir dalam penguasaan teknologi, sehingga sangat berpengaruh ketika mereka mengikuti pengajian/ceramah agama.

Dekan Fakultas Dakwah UIN Antasari, H Akhmad Sagir menjelaskan, da’i harus mengikuti tren memang benar dan harus mengetahui minimal. Tapi, ada tuan guru tidak terlalu mengikuti itu, hanya berdakwah sebagaimana mestinya.
Tuan guru tidak harus mengukuti banget, namun hanya tim kreatiflah yang harus menyebarkan melalui media yang akrab dikenal generasi milenial.

"Ya gak wajib sih. Namun, tim kreatiflah seharusnya menstremingkan, melalui penyalurnya saja, misalkan youtube streaming dan media sosial. Tuan guru tidak harus kekinian banget. Karena style tuan guru tidak melulu harus diubah. Justru dengan syle tersendiri akan menumbuhkan khatismatik dan ciri khas tersendiri. Tanpa harus diubah stylenya," kata Sagir.
Ambil sisi positif dan tingalkan sisi negatif dari perkembangan internet, tren positifnya anak-anak muda yang suka ini lebih tertarik dan penambahan jemaah.

Baca: Ceramah Zaman Now Harus Memahami Watak Target

"Yang harus dilakukan para kiai, mengupdate perkembangan zaman ini. Namun, tidak bisa juga memaksakan untuk harus kekinian banget. Tapi, orang di sekitarnyalah harus menyiarkan melalui cara-cara kekinian, memlalui youtube, facebook media sosial, blog dan yang akrab dipakai oleh generasi milenial," kata dia.

Dicontohkan Sagir, Guru Zuhdi ketika berceramah di Masjid Sabilal Muhtadin dan Masjid Jami Banjarmasin, selalu banyak dihadiri generasi milinial.

"Kalau 50 sampai 60 persen yang hadir adalah anak muda. Memang perlu penelitian lebih dalam, mengapa anak muda juga banyak ikut pengajian. Sebagai analisis sementara, Guru Zuhdi menyampaikan materi-materi dengan kondisi kekinian," kata dia.

Baca: Ikatan Dai se-Jatim Pun Diminta Fokus Dawah Generasi Milenial

Soal apakah tidak ada kekhawatiran anak-anak muda malah tambah malas pergi ke pengajian, karena cukup nonton di youtube? Sagir menjelaskan, kiranya media saat ini yang streming tidak besar pengaruhnya untuk datang ke majelis ilmu.

Karena itu, katanya, tuan guru juga sering menekankan lebih afdal atau lebih baik untuk langsung berhadir di majelis, dibandingkan nonton di TV atau di youtube.

"Misal iktikaf di masjid saja pun ada yang afdal, selalu isi shaf yang berada di depan," kata dia.

Soal tema dan materi yang disampaikan kepada anak muda, itu tergantung terget dan sasaran siapa yang akan didakwahi.
"Kalau anak muda ya lebih kepada anak muda. Misalkan menyampaikan membersihkan hati, itu diberikan contoh kekinian. Temanya tetap biasa, namun contoh realitanya saja disesuaikan kekinian," urai Sagir.

Adapun soal pengkaderan, memang diperlukan sosok kader da’i atau ustadz. "Tuan guru dan ustad ini, memang ada pendidikan khusus. Itu yang dapat bertahan, bukan da’i yang cenderung kepada intertain," kata dia.

Walaupun zaman now dan ke depan, Sagir menyarankan generasi milenial (anak muda) ini yang penting tetap ke majelis ilmu.
"Terpengaruh dengan media oke, hanya diimbangi dan dibarengi di majelis. Khusus ke da’inya, juga harus mengikuti.

Penyampaian kekinian akan lebih bagus dan mengena serta mudah dipahami, sehingga tepat sasaran," kata Sagir. (lis)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help