Azan: Panggilan Salat Berjemaah

Pada mulanya, Rasulullah SAW bermusyawarat dengan para sahabat, bagaimana cara memanggil untuk mengumpulkan umat Islam salat berjemaah.

Azan: Panggilan Salat Berjemaah
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

KH HUSIN NAPARIN
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Azan adalah Al-I’lam, maksudnya pemberitahuan, dan menurut syari’at adalah “Ucapan tertentu dengannya dapat diketahui waktu salat fardu, atau dengan kata lain azan adalah pembaritahuan tentang tibanya waktu salat (dengan menggunakan) ucapan tertentu”. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatu, Jilid I, hal.533).

Pada mulanya, Rasulullah SAW bermusyawarat dengan para sahabat, bagaimana cara memanggil untuk mengumpulkan umat Islam salat berjemaah. Ada yang mengusulkan apabila waktu salat tiba, dibunyikan saja lonceng. Rasulullah pun menjawab, “Kalau dibunyikan lonceng kita akan sama dengan umat Nasrani.”

Lalu ada yang mengusulkan, “Apabila waktu salat tiba, dibunyikan terompet.” Rasulullah pun menyanggah, “Kalau dibunyikan terompet, kita akan sama dengan umat Yahudi.”

Kemudian ada yang mengusulkan, “Bila salat tiba dinyalakan api.” Rasulullah menyanggah, “Kalau dinyalakan api kita akan sama dengan umat Majusi.”

Besoknya seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid RA melaporkan, bahwa ia bermimpi diajari oleh seseorang kalimat-kalimat azan dan iqamat. Kalimat itu dibenarkan oleh Rasulullah SAW sebagai mimpi yang benar, dan kalimat-kalimat itu pernah didengar oleh beliau pada waktu beliau mikraj. (lihat Subul As-Salam 1/171 ).

Orang yang menyampaikan azan disebut mu’adzin. Orang pertama yang mengumandangkan azan adalah Bilal, seorang budak hitam yang memeluk Islam setelah disiksa oleh tuannya Umayyah, namun ditebus dan dimerdekakan oleh Abubakar Ash-Shiddiq RA. Kita belum tahu dari mana sumbernya, di masyarakat kita azan disebut dengan bang, karena kebetulan mu’adzin itu bernama Asat, salah seorang jemaah menyuruhnya azan, katanya, “bang, Sat.”

Seorang mu’adzin akan mendapatkan pahala yang besar sekali, Nabi SAW bersabda, “Jika sekiranya manusia tahu apa yang (didapatnya) pada azan dan shaf pertama (masuknya bersegera ke masjid); kemudian tidak mungkin mendapatkanya kecuali dengan jalan undian.” (Hadis muttafak alaih). Nabi SAW bersabda pula, “Orang-orang yang azan adalah orang-orang yang panjang lehernya di hari kiamat nanti.” (HR Muslim dll).

Azan dan Iqamat untuk salat fardu lima waktu, hukumnya sunat muakkadah bagi laki-laki di setiap masjid, Nabi SAW bersabda, “Bila waktu salat telah tiba, maka salah seorang di antara kalian hendaklah menyampaikan azan, dan yang tertua di antara kamu menjadi imam.”

Bagi perempuan, disunatkan iqamah dengan perlahan. Azan harus dengan bahasa Arab, dapat didengar oleh jemaah, tertib dan berurutan (muwalat) di antara lafadh-lafadh azan itu sendiri, disampaikan oleh seorang yang berakal (mumayyiz) dan laki-laki. Tidak disyaratkan suci dari hadats, menghadap kiblat dan tidak berkata-kata, hal-hal ini hanya sunat.

Seorang mu’adzin sunat pula menyerukan iqamah; bersuara nyaring dan merdu (menarik), berdiri di tempat yang tinggi atau menara agar bisa didengar, merdeka (bukankah budak), balig, adil, dipercaya, shaleh (orang baik-baik; tahu akan waktu-waktu salat, berwudhu lagi suci, dan menghadap kiblat. Sunat sesudah azan memberikan tenggang waktu dari iqamah sehingga memungkinkan orang-orang yang ingin salat untuk datang/hadir, dan menyerukan azan dimaksudkan untuk mencari rida Allah.

Diriwayatkan, “Barang siapa (menyampaikan azan) azan tujuh tahun lamanya dengan maksud mencari rida Allah SWT niscaya lepas dari siksa api neraka.” (HR Ibnu Majah). Dalam kalimat-kalimat azan dan iqamah terdapat pengagungan asma Allah, kalimat syahadatain, seruan untuk salat dan meraih kemenangan, ditutup dengan kalimat tauhid.

Kita mendambakan para remaja sejak mumayyiz sudah mahir mengumandangkan azan dan iqamah, benar dan tepat. Hal ini memerlukan pembelajaran, tanpa belajar bisa jadi ungkapannya salah dan keliru; sebagai contoh: hayya alal-falah, (mari meraih kemenangan), jangan sampai dilafazkan hayya alal-fallah, karena artinya akan berubah, mari menjadi petani. Apalagi dalam iqamah, dimana dianjurkan agar dua kalimat disatukan, seperti hayya alash-shalah hayya alal-falah. Bisa terjadi kekeliruan, hayya alash-shalah... jika berhenti, kemudian disambung dengan: ti-hayya alal-falah.

Suatu ketika seorang anak mengumandangkan iqamah, sampai pada kalimat: hayya alash-shalah hayya alal-falah, ia terhenti. Lalu ia bertanya kepada seorang jemaah yang duduk di sampingnya, katanya: “Pak apa lanjutannya, “apa salah yang mati tukad atau tukad yang mati salah?” Anak ini lupa ungkapan : Qad qamatish-shalah Qad qamatish-shalah. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help