Esai: Salah Cotok Melantingkan

Merah yang mulai membara, harus rela diseling biru, bahkan ditindih kuning. Namun, ini yang bikin ramai, putih ikut berkibar.

Esai: Salah Cotok Melantingkan
istimwa
Zulfaisal Putera 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - “TAHUN ini memang sangat melelahkan!” demikian salah satu poin celoteh teman saya sepanjang perjalanan siang itu saat menuju sebuah tempat makan.

Sebelumnya kami memang bicara banyak hal, dari persoalan musik, kerja, perempuan, politik, sampai ke Tuhan. Dan pernyataan itu sepertinya menjadi hipotesisnya.

Jika bicara lelah, yang terpikir oleh saya tentu soal fisik. Namun, bisa juga soal pikir dan hati. “Ya, semuanya!” katanya ketika pembicaraan berlanjut lagi sambil menikmati makan.

“Tapi, syukurlah,” katanya kemudian, “negeri ini benar-benar otot kawat tulang besi sehingga tetap bisa survive!” Lantas, yang lelah siapa? “Ya, kita, aku, dirimu, dan siapa pun!” tukasnya.

Saya pribadi sebenarnya tak lelah-lelah benar, hanya sedikit terusik saja. Apalagi jika bicara catatan sepanjang tahun 2017.

Tak jauh-jauh bedalah catatan tahun 2016 dan sebelum-sebelumnya. Pasti ada suka dukanya. Ada positif negatif. Ada yang diuntungkan dan dirugikan. Ya, berkeringat dan berdarah-darahlah, kalau bahasa saya. Namanya juga hidup.

Yang membedakan barangkali warnanya. Apalagi Indonesia ini negeri yang sangat mementingkan warna. Jika tiga puluh tahunan kuning menjadi sangat keramat, maka setelahnya warna-warna lain hadir bergantian.

Merah yang mulai membara, harus rela diseling biru, bahkan ditindih kuning. Namun, ini yang bikin ramai, putih ikut berkibar.

Silakan jika Anda memaknai warna-warna itu sebagai simbol politik dan kekuasaan di Indonesia. Kenyataannya, yang membuat kita lelah, terutama mata, adalah tak bisa menikmati keindahan salah satu atau beberapa warna itu barang sejenak karena harus kemudian diaduk-aduk oleh sang dalang. Semua menjadi seperti abstrak. Takjelas lagi warna aslinya.

Kasus Ahok dan seterunya adalah contoh persoalan yang membuat negeri ini seperti tsunami. Padahal ini kasus Jakarta, tapi rasa Indonesia. Dan, ternyata tak selesai begitu Ahok masuk bui.

Permainan terus berlangsung, bahkan ke semua lini. Isu agama, etnis jadi gorengan yang laku dijual. Ini bahaya laten dalam negara Pancasila yang mengusung keberagaman ini.

Itulah penggalan esai berjudul Salah Cotok Melantingkan dari Zulfaisal Putera. Selengkapnya simak di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (31/12/2017). 

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved