Berita Kotabaru

Warga Kotabaru Tolak Bantuan Pemerintah, Nelayan: Hanya Cocok untuk Jaring Buaya!

Penelusuran di lapangan, bermacam masalah dihadapi nelayan Rampa seperti jaring yang disyaratkan pemerintah terlalu lebar

Warga Kotabaru Tolak Bantuan Pemerintah, Nelayan: Hanya Cocok untuk Jaring Buaya!
banjarmasinpost.co.id/herliansyah
Puluhan perahu nelayan tradisional tampak terparkir di dermaga Desa Rampa Kotabaru 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Kompleksitas persoalan jaring di kalangan nelayan tradisional Desa Rampa Kecamatan Pulaulaut Utara, Kabupaten Kotabaru membuat mereka sulit meninggalkan lampara dasar (trawl) dan mulai menggunakan jaring yang ditentukan pemerintah. Padahal per 1 Januari 2018, nelayan tak boleh lagi menggunakan lampara dasar.

Penelusuran di lapangan, bermacam masalah dihadapi nelayan Rampa seperti jaring yang disyaratkan pemerintah terlalu lebar, berat sehingga tidak sesuai dengan kapal serta banyaknya yang belum mendapatkan bantuan jaring dari pemerintah.

Beberapa nelayan ditemui BPost mengungkapkan alat tangkap yang disediakan pemerintah seperti tremelnet (gondrong) dan gilnet milenium (rempa/jaring) tidak bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak.

Baca: Lagi Cemburu Berakhir Maut! Jalan dengan Pria Lain, Perempuan Ini Dibunuh Suami Siri

Udi, nelayan Rampa yang menerima bantuan gondrong, menjelaskan jaring ini hanya bisa digunakan pada musim tertentu seperti musim barat dan utara. Padahal musim itu datang tiga bulan sekali.

“Nah nanti bulan empat (April) musim tangkapan untuk alat tangkap gondrong. Lamanya paling satu bulan. Itu pun lokasi tangkapannya diperebutkan ratusan nelayan. Karena dimana lokasi tangkapan di situ semua nelayan berkerumun,” terang Udi, Senin (1/1).

Baca: Atlet Thai Boxing Transgender Asal Thailand yang Menghebohkan, Pakai Lipstik saat di Arena

Selama tiga bulan menunggu musim tangkap, Udi pun bingung harus bekerja apa. “Keluarga kami mau makan apa kalau tidak melaut. Sementara desakan ekonomi pasti setiap hari. Melaut setiap hari saja belum mencukupi,” ujarnya.

Lain lagi alasan yang dikemukakan Fauzi. Kendati menerima bantuan rempa dari pemerintah, dia menyatakan tidak akan menggunakan lampara dasar. Meski menghadapi risiko diproses hukum, Fauzi akan tetap menggunakan lampara. Itu karena mata jaring rempa sebesar tujuh inci dinilai terlalu besar.

Dengan ukuran sebesar itu, tidak sedikit nelayan Rampa menyebutnya jaring buaya. “Kami menyebutnya jaring buaya karena cocoknya untuk menangkap buaya,” ujar Fauzi yang diiyakan beberapa nelayan lainnya.

Selain Fauzi, ada sekitar 150 nelayan dari 15 kelompok yang menerima bantuan rempa dari pemerintah.

Fauzi juga mengungkapkan persoalan berat jaring. Dia dan sejumlah nelayan menilai jaring terlalu berat untuk ukuran perahu balapan yang satu gross ton (GT). “Sarat kalau dibuat ke perahu. Ukuran talinya saja 12 mili, besar sekali,” kata Fauzi.

Mau baca berita Banjarmasin Post dan Metro Banjar? klik DI SINI

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help