Berita Kotabaru

Duh Kasihan, Nelayan Rampa Cengal Masih Kesulitan Dapatkan BBM Saat Melaut

Bahkan kadang sulitnya mendapatkan BBM, tidak jarang pula terpaksa tidak melaut beberapa hari.

Duh Kasihan, Nelayan Rampa Cengal Masih Kesulitan Dapatkan BBM Saat Melaut
banjarmasinpost.co.id/helriansyah
Berapa buah perahu nelayan tradisional saat menunggu pengambilan jatah BBM di SPDN PPI Kotabaru, kemarin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID,KOTABARU - Berbagai persoalan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi khususnya nelayan saat ingin melaut masih kerab menggeluti.

Bahkan kadang sulitnya mendapatkan BBM, tidak jarang pula terpaksa tidak melaut beberapa hari.

Persoalan ini kerab dialimi lebih kurang 500 nelayan di Desa Rampa Cengal, Kecamatan Pamukan Selatan Kotabaru. Karena kadang kesulitan mendapat solar, mereka terpaksa tidak melaut dua sampai tiga hari.

Abdul Samad, warga desa Rampa Cengal yang sekaligus mendapatkan kepercayaan/ditunjuk nelayan dan kepala desa sebagai pengelola solar subsidi yang disuplai dari solar paket dialer nelayan (SPDN) yang ada di pangkalan pendaratan ikan (PPI) Kotabaru.

Baca: BREAKINGNEWS: Mobil Avanza yang Jadi Sasaran Rampok Ditemukan di Desa Malintang Gambut

Menurut Samad, kesulitan mendapatkan solar masih dialami ratusan nelayan Rampa Cengal karena BBM yang disuplai PT AKR dikelola koperasi di PPI Kotabaru masih belum memenuhi kebutuhan nelayan.

Jatah pengambilan atau pembelian solar di PPI, kata Samad, perbulanya hanya mendapatkan 27 ton. Sementara kebutuhan nelayan minimal 30 ton perbulan.

"Belum lagi persoalan mesin tembak di SPDN rusak. Sering terjadi. Bisa sampai beberapa hari tidak bisa mengambil," katanya, kemarin.

Ditambahkan dia, jatah BBM untuk Rampa Cengal belum memenuhi kebutuhan nelayan. Karena jumlah lebih kurang 500 orang, sedangkan rata-rata kebutuhan nelayan perhari 20 liter.

Baca: Subhanallah, Gadis Cantik Lulusan Terbaik Unhas Ini Meninggal Saat Tadarus dan Sedang Puasa Sunat

"20 liter itu hanya kalau dirata-ratakan. Sebab ada nelayan membeli lebih dari 20 leter perhari. Sudah berapa? Sudah 10 ton kan perhari. Nah, kalau sebulan berarti 30 ton paling minimal," jelasnya.

Karena tidak mencukupi kebutuhan nelayan, masih menurut Samad, nelayan terpaksa kerab tidak melaut.

Selama ini untuk memenuhi kebutuhan melaut, nelayan juga terpaksa membeli solar laut--solar dari kapal--dengan harga Rp 7.500 perliter. Sementara solar subsidi Rp 6.500 perliter.

"Itupun kalau ada solar laut. Ini saja--solar laut--beberapa hari sudah kosong," jelasnya.

Samad juga memaparkan, solar subsidi dibelinya di SPDN di PPI Kotabaru Rp 5.150 perliter. Dijual ke nelayan Rp 6.500 perliter karena besarnya biaya operasional membawa BBM tersebut dari Kotabaru ke desa Rampa Cengal melalui jalur laut.(*)

Penulis: Herliansyah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help