Kriminalitas Tanahlaut

Dua Perempuan Pengeroyok Guru SDN Pelaihari 7 Divonis Enam Bulan Penjara, Ini Kronologinya

Terdakwa juga merasa menyesal dan merasa bersalah sudah memukul dan memegang lengan korban hingga berdarah.

Dua Perempuan Pengeroyok Guru SDN Pelaihari 7 Divonis Enam Bulan Penjara, Ini Kronologinya
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Dua terdakwa pengeroyok guru SDN Pelaihari 7, divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari, masing-masing enam bulan penjara, Selasa (9/1/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Terdakwa pengeroyok guru SDN Pelaihari 7, Mawarti (32) dan Hidayanti (18) divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari, masing-masing enam bulan penjara, Selasa (9/1/2018).

Kedua terdakwa dan jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Tanahlaut menyatakan menerima dengan putusan yang dibacakan ketua majelis hakim, Harries Konstituanto.

Jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Tanahlaut, Indra Surya Kurniawan mengaku tidak menyatakan banding. Itu karena menganggap putusan majelis hakim itu sudah layak.

Putusan majelis hakim itu lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum, yaitu delapan bulan penjara.

Baca: Sempat Disegel karena Tak Berizin, Menara Tunggal 4G Sudah Diizinkan di Sempadan Bangunan

Hal yang memberatkan terdakwa pengeroyokan itu dilakukan terhadap seorang guru yang mendidik anak terdakwa serta dilakukan di hadapan para siswa di SDN Pelaihari 7.

Namun ada juga yang meringan terdakwa adalah permohonan maaf korban bernama Suprihatin di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Pelaihari, sebelumnya.

Terdakwa juga merasa menyesal dan merasa bersalah sudah memukul dan memegang lengan korban hingga berdarah.

Kedua terdakwa juga menyampaikan permohonan maaf disaksikan majelis hakim dan jaksa penuntut umum. Suasana haru di ruang itu terasa karena korban sejak awal memang sudah menyatakan memberi maaf kepada kedua terdakwa.

Dalam persidangan yang agendanya mendengar keterangan saksi dan keterangan terdakwa itu terungkap bahwa korban dikeroyok kedua terdakwa. Terdakwa Mawarti yang memukuli kepala korban.

Baca: Saat Warga Antre Bikin SIM, 9 Polwan Cantik Mainkan Senjata, Ini yang Terjadi Kemudian

Korban saat itu bertemu tak sengaja dengan kedua terdakwa yang semula ingin menemui kepala SDN Pelaihari 7 mempertanyakan tindakan korban yang memukuli anaknya dengan sapu lidi hanya karena tak mengenakan sepatu.

Naas korban yang ingin mengajar, di depan pagar sudah dicegat kedua terdakwa yang mempertanyakan tindakan korban memukul anaknya. Jawaban korban bahwa anaknya memang nakal sehingga dipukul membuat terdakwa Mawarti emosi.

Terdakwa saat itu ditemani saudaranya, Hidayanti memegang lengan korban. Saat itu siswa di SDN Pelaihari 7 banyak melihat tingkah kedua terdakwa mengeroyok korban. Dua saksi Eka dan Santi mendatangi korban untuk diselamatkan dari kedua terdakwa.

Korban kemudian dibantu polisi melaporkan kasusnya ke Mapolres Tanahlaut setelah sebelumnya mendapatkan perawatan di ruang gawat darurat rumah sakit Hadji Boejasin Pelaihari. (*)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help