Kisah Kerajaan Pagatan

Kisah Raja Pagatan dalam Sejarah Perjalanan Kerajaan Banjar

Pagatan merupakan desa yang paling tua di Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan. Tak semua orang tahu

Kisah Raja Pagatan dalam  Sejarah Perjalanan Kerajaan Banjar
via BANJARMASINPOST.co.id/man hidayat
(Foto: Istimewa) Tinggi Raja Pagatan ke 9, Andi Sallo (badannya paling tinggi) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Pagatan merupakan desa yang paling tua di Kabupaten Tanahbumbu.

Tak semua orang tahu bahwa Pagatan pernah menjadi kerajaan hingga 9 raja.

Tak banyak yang tau pula terkait silsilah raja Pagatan dan Kusan.

Kerajaan Pagatan dimulai pada tahun 1755 sebagai kerajamudaan bawahan Kerajaan Banjar yang merupakan otonomi bagi imigran suku Bugis didalam negara Kesultanan Banjar.

Penguasa kerajaan Pagatan dan Kusan disebut sebagai Arung (bukan Sultan) atau Belanda menyebutnya Permukiman Van Pagattan.

Pagatan sendiri dibangun oleh seorang saudagar kaya dari Suku Bugis.

Puanna Dekke berhasil membangun permukiman tersebut dan memiliki cucu hingga akhirnya cucunya diangkat sebagai Raja Pagatan dan Kusan yang pertama sekitar tahun 1784.

Raja pertama bernama La Pangewa (Hasan Pangewa) saat itu berhasil memimpin orang bugis Pagatan dan akhirnya dilantik Sultan Banjar sebagai Kapitan (Raja) Pagatan dan Kusan dan diberi gelar sebagai Kapitan Laut Pulo.

Jasa-jasa La Pengewa dan pasukannya menggempur pasukan Pangeran Amir bin Sultan Kuning yang menjadi rival dari Sultan Tahmidullaj II dalam perebutan mahkota Banjar.

La Pangewa diberi gelar Kapitan Laut Pulo yang artinya semacam panglima laut yang menjaga perairan setempat hingga menjadi raja Pagatan dan Kusan.

Kapiten Laut Pula menjabat sebagai raja hingga 1800, kemudian tahta itu diwariskan kepada anaknya Arung Abdul Rahim atau La Palebbi pada 1830- 1838.

Selanjutnya raja ke III diturunkan kepada Arung Abdul Rahman atau La Paliweng pada 1838 - 1855.

Raja ke 4 diwariskan kepada La Matunra pada 1855-1863.

Raja ke 5 turun kepada anaknya, La Makkarau pada 1863-1871.

Raja ke 6 dijabat Abdul Jabbar pada 1871-1875, kemudian raja ke 7 oleh ratu Sengeng atau Daerng Mangkau pada 1875-1883.

Selanjutnya tahta itu diberikan kepada Andi Tangkung (Petta Ratu) pada 1883-1893.

Dan raja terakhir yaitu raja ke 9 diduduki Andi Sallo atau Arung Abdurrahim pada 1893-1908 sebagai Raja Pagatan dan Kusan.

Andi Sallo ini lah menjadi raja terakhir yang kinis usdah meninggalkan banyak cicit.

Satu di antaranya adalah Andi Satria Jaya yang saat ini menjadi kepala Desa kampungbaru Mattone Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanahbumbu.

Peninggalan Andi Sallo pun beberapa masih disimpan Andi Jaya di rumahnya yang merupakan lokasi Kerajaan Pagatan dan Kusan.

Meski lokasinya sudah berubah drastis, namun rumah yang ditempati Andi Jaya merupakan bagian dapur Kerajaan Pagatan.

"Ini lah lokasi kerjaan yang saya tempati. Dulunya wilayah kerjaan sangat luas, dan yang saya tempati ini hanyalah bagian dapurnya saja," kata Andi Satria Jaya.

Dia juga mengakui ada beberapa peninggalan kerajaan dan masih disimpannya dengan baik dan rapi. (BANJARMASINPOST.co.id/man hidayat)

Penulis: Man Hidayat
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved