Harga Beras Jawa Naik di Atas HET

News Analysis, M Handry Imansyah Guru Besar Fakultas Ekonomi ULM : Terkait Supply Demand

Karena perbedaan selera masyarakat cukup besar akan beras Jawa, karena itu permintaan akan beras Jawa di Kalsel muncul.

News Analysis, M Handry Imansyah Guru Besar Fakultas Ekonomi ULM : Terkait Supply Demand
Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Rabu (10/1/2018) Halaman 1 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sebenarnya Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi satu di antara lumbung beras nasional. Jumlah produksi beras dari petani di Kalsel mencukupi memenuhi kebutuhan beras masyarakat Kalsel, bahkan sebagian dijual ke luar Kalsel.

Namun karena perbedaan selera masyarakat yang juga cukup besar akan beras Jawa, karena itu permintaan akan beras Jawa di Kalsel muncul.

Selera ini sangat bervariasi dan subjektif, ada juga yang lebih suka beras Jawa. Di Kasel banyak pendatang yang seleranya berbeda-beda.

Beras menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia serta komoditas utama yang setara dengan bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor komponen utama penggerak inflasi di Indonesia. Sudah sepatutnya pemerintah bisa mengamankan stabilitas dua komoditas ini.

Baca: Harga Beras Jawa Alami Kenaikan di Atas HET Rp 500 Per Kg, Beras Lokal Tak Alami Gejolak

Baca: Warga Kalsel Ternyata Kurang Minati Beras Bulog, Lebih Memilih Produk Lokal dan Jawa

Baca: Harga Beras Jawa Alami Kenaikan, Disperindag Ingatkan Pedagang Patuhi HET

Khususnya beras, jika terjadi inflasi dan sebabkan fluktuasi harga beras tentu masyarakat berpenghasilan rendah yang akan paling terdampak.

Pengarunhnya paling luas dan paling cepat dirasakan kalau dua komoditas itu bergejolak, khususnya beras.

Saya mengapresiasi pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui Bulog menjaga stabilitas harga beras dan tidak menimbulkan fluktuasi harga signifikan.

Pemerintah dan Bulog juga cepat tanggap dalam membuka keran impor ketika benar-benar dibutuhkan. Namun harus tetap diingat, pemerintah dan Bulog harus lebih teliti dalam membuat keputusan berbagai aspek terkait komoditi beras.

Khususnya terkait harga, apakah memang stoknya berkurang atau justru ada permainan harga. Karena importir pun kebanyakan bermain di dua kaki juga sebagai pihak pengadaan beras. (ach)

Baca Lebih Lengkap di Harian Banjarmasin Post edisi Rabu (10/1/2018)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved