Fenomena Trump dan Pilkada

Momen di tengah hajatan selebritis Hollywood itu pun menjadi ramai di dunia maya. Tagar Tagar #Oprah2020

Fenomena Trump dan Pilkada
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

ADA yang menarik dari perhelatan para pekerja seni (film) di Hollywood pada gelaran Golden Globes, di Los Angeles AS, Minggu(7/1) waktu di sana atau Senin (8/1) waktu Tanah Air. Di sela-sela hajatan, mengemuka nama pembawa acara kondang, Oprah Winfrey sebagai calon presiden AS pada 2020. Dan, para bintang layar lebar dan layar kaca secara aklamasi mendukung ‘queen’ reality show di negeri Uncle Sam, itu maju untuk bertarung di Pilpres mendatang.

Momen di tengah hajatan selebritis Hollywood itu pun menjadi ramai di dunia maya. Tagar Tagar #Oprah2020 dan #OprahForPresident riuh dibincangkan di media sosial. Dari ajang tahunan insan perfilman di AS itu, Oprah Winfrey menjadi satu-satunya wanita keling yang menerima penghargaan Cecil B DeMille Lifetime Achievement Award.

Sebuah ungkapan menarik bernuansa politik disampaikan Oprah Winfrey ketika itu.“Hari baru akan segera dimulai”. Ungkapan bermakna ganda ini sebagai deklarasi pencalonan diri Oprah Winfrey dalam Pilpres mendatang.

Benarkah Oprah Winfrey ingin maju menjadi kandidat presiden pada 2020? Menilik karir dan popularitasnya, nama Oprah populer di se-antero Amerika Serikat. Bahkan, Barack Obama mungkin tidak pernah menjadi presiden kulit hitam pertama AS, jika bukan karena kejelian seorang Oprah Winfrey. Kala itu, Obama sebagai anggota Senat tidak begitu terkenal, popularitasnya melesat setelah masuk acara dipandu Oprah Winfrey.

Amerika Serikat dengan sistem demokrasi liberal memberi tempat (hak berpolitik) bagi semua warganya, termasuk artis selebritis. Contohnya, sebut saja aktor berotot, Arnold Schwazenegger pernah menjadi gubernur California. Bahkan, Ronald Reagan, sukses menjadi presiden AS selama dua priode (1981-1989).

Fenomena itu juga terjadi di Indonesia. Banyak para pekerja seni masuk parlemen dan birokrasi. Aktor Deddy Mizwar yang kini masih menjadi Wagub Jabar, maju bertarung pada Juni 2018 ini untuk naik kelas ke kursi Jabar-1.

Nah, kembali ke Gedung Putih. Ketidaksukaan banyak pihak di AS terhadap figur Donald Trump, bukan sesuatu yang asing. Trump kerap kali memunculkan kontroversi. Bahkan, tidak sedikit yang mencapnya pembual alias pembohong. Bahkan urusan berbohong Trump dikatakan kampiunnya. Tengok blog Fact Cheker di Washinton Post yang dikutip CNN (2/1/2018), sepanjang 347 hari sejak menjabat presiden, Trump telah membuat 1.950 pernyataan keliru atau palsu. Diantara penyataan bohongnya mengenai UU Layanan Kesehatan atau Obamacare yang disebutnya program sekarat dan mati. Namun, kantor anggaran Kongres justru menyatakan sebaliknya. Memang, bukan Trump kalau tidak kontroversial. Selain menjadi ‘musuh bersama’ di dalam negerti, Trump juga tidak disukai banyak negara, khususnya negara Islam setelah dia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Juni 2018, negeri ini menggelar pilkada serentak –yang pastinya menghadirkan banyak figur beragam warna dan tampilan berbeda-beda. Agar tidak menyesal, pilihlah sosok yang benar-benar membawa kebaikan bersama, bukan hanya kebaikan untuk sosok itu sendiri, kelompok, dan golongannya. Kita tentu tidak ingin seperti Trump yang ‘dimusuhi’ warganya sendiri karena ulah dan prilakunya yang kontroversial. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved