Berita Hulu Sungai Tengah

Ini Dampak yang Terjadi Pada Proyek Irigasi Batangalai Bila Dipaksakan Penambangan Batu Bara di HST

Ini Dampak yang akan Terjadi Pada Proyek Irigasi Batangalai Bila Dipaksakan Penambangan Batu Bara

Ini Dampak yang Terjadi Pada Proyek Irigasi Batangalai Bila Dipaksakan Penambangan Batu Bara di HST
istimewa
tiga lokasi di Kabupaten HST, Balangan dan Tabalong 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Kajian khusus analisa mengenai dampak lingkungan atau Amdal oleh MCM, menurut Plt Kepala Dinas Lingkingan Hidup HST, Muhammad Yani sebelumnya pernah ditolak Pemka HST.

Masalahnya, sejak tahun 1999, ada proyek Irigasi Batangalai di wilayah Kecamatan BAT tersebut yang ditargetkan mengaliri 6.600 hektare lahan pertanian.

Penyelesaian megaproyek yang dibangun bertahun-tahun itu sendiri, sampai sekarang masih dilaksanakan.

“Kalau dipaksakan penambangan batu bara, proyek ratusan miliar tersebut, bakal mubazir. Pihak Balai Besar Sungai Kementerian PU sendiri pernah menyampaikan masalah ini, melaui suratnya ke Kementerian ESDM,” kata Yani, Kamis (11/1/2018).

Baca: Menteri ESDM Keluarkan Izin Produksi Batu Bara di HST, Begini Reaksi Warga

Baca: Tak Pernah Tandatangan, Dinas LH HST Bingung Menteri ESDM Terbitkan Izin Produksi Perusahaan Ini

Baca: Izin Produksi Perusahaan Tambang Ini Terbit, Dinas LH HST Usul Sekda Tanyakan ke Menteri ESDM

Ditambahkan, dari hasil penelitian Profesor Eri Purnomo, dari Universitas Lambung Mangkurat, pembukaan wilayah Meratus di Kecamatan BAT bakal mengganggu cactment area (kawasan resapan air).

Berdasarkan penelitian Profesor Eri tersebut, jelas jika ditambang dengan kedalaman 200 meter di bawah permukaan laut, akan berdampak buruk, dimana saat musin hujan kebanjiran dan jika musin kering keurangan air.

“Ini jelas mengganggu irigasi batangalai,” tambahnya.

Yani menyebut, beberapa desa yang masuk area pertambangan Adaro saat ini untuk persediaan air minum di musim kemarau, selama ini dipasok perusahaan tersebut, dengan bantuan tandon-tandon air.

“Melihat di kabupaten tetangga ini, secara kasat mata penambangan mempengaruhi ketersediaan air di musim kemarau, jika wilayah resapan airnya dibuka,” pungkas Yani.
(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help