Jejak Bangunan Belanda di HST

Pohon Mahoni Rindang Membuat Barabai Dijuluki 'Bandungnya Borneo', Lagi-lagi Jasa Pria Jerman Ini

Julukan Barabai Bandoeng Van Borneo, karena pada 1875 sampai 1940 kota BArabai merupakan kota yang sejuk dengan dikeliling pohon

Pohon Mahoni Rindang Membuat Barabai Dijuluki 'Bandungnya Borneo', Lagi-lagi Jasa Pria Jerman Ini
via BANJARMASINPOST.co.id/hanani
(Sumber foto: www.kitlv.nl) Kota Barabai dengan pohon mahoni semasa pemerintahan Kolonial. 

 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Julukan Barabai Bandoeng Van Borneo, karena pada 1875 sampai 1940 kota BArabai merupakan kota yang sejuk dengan dikeliling pohon rindang mahoni, yang oleh warga Barabai disebut pohon kenari.

Pohon-pohon tersebut tak hanya ditanam di alun-alun kota Barabai. Tapi juga di sejumlah ruas jalan, seperti sepanjang jalan PH M Noor, Brigjen H HAsan Basry, serta Jalan Ganesya.

Menurut tethuha masyarakat HST, Habib Abdullah yang menuturkan kepada Mas Adi Yannor, warga Barabai peminat sejarah kota Barabai, tata kota yang bersih dan sejuk di Barabai, membuat mereka yang berkunjung ke Bumi Murakata merasakan ketenangan.

Baca: Wow, di Zaman Penjajahan di Barabai Sudah Ada Bioskop, Pakai Nama Ratu Belanda! Ini Dia

Baca: Kisah Tuan Paul, Orang Jerman Pemilik Rumah yang Kini Ditempati Wakil Bupati HST

Lorong-lorong dipusat kota pun diteduhi pohon mahoni. Menurut Habib Abdullah yang lahir dan besar di Barabai (sekarang berusia sekitar 90 tahun), pohon-pohon itu ditaman oleh tuan Paul, warga kelahiran Jerman yang bekerja pada pemer

intah Hidia Belanda. “Menurut Kai Abdullah, Tuan Paullah yang telaten merawat pohon-pohon mahoni dan menata kota Barabai dengan gaya dan selera orang Erofah.

Pohon mahoni yang berada di pusat kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, sekarang. Foto  diambil Jumat (12/1/2018)
Pohon mahoni yang berada di pusat kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, sekarang. Foto diambil Jumat (12/1/2018) (BANJARMASINPOST.co.id/hanani)

Namun, ketika Hitler menyerang Nederland, tuan Paul ditawan Belanda, hingga tak diketahui nasibnya kemudian.

Namun, namanya sampai sekarang masih dikenang warga Barabai, terutama yang lahir di zamannya ketika berjalan di pusat kota Barabai.

Kini, pohon-pohon rindang di sekeliling lapangan Dwiwarna, satu persatu mulai terancam mati, karena lapuk dimakan usia.

Bahkan, beberapa pohon, di pinggir Jalan kini terpaksa ditebang karena dikhawatirkan membahayakan lalu lalang warga yang melintasi jalan sekitar lapangan Dwiwarna.

Ada pula yang tumbang sendiri, diterpa angin puting beliung, serta terkena proyek trotoar. (banjarmasinpost.co.id/barabai).

 

-

Penulis: Hanani
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help