Ilmu Hitam

SETIAP menjelang pilkada, pemilu legislatif atau pilpres selalu muncul kampanye hitam. Kampanye hitam sama sesatnya dengan ilmu hitam.

Ilmu Hitam
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

SETIAP menjelang pilkada, pemilu legislatif atau pilpres selalu muncul kampanye hitam. Kampanye hitam sama sesatnya dengan ilmu hitam. Kampanye hitam itu tidak sehat, melakukan apa saja demi mencapai kemenangan. Apakah melalui tulisan, gambar, propaganda dan yang lagi ngetren sekarang lewat media sosial. Tujuannya jelas, pembunuhan karakter orang yang disasar, kalau perlu dibelejeti sampai ke hal yang paling pribadi.

Pada saat pilpres tahun 2014 semua orang juga tahu kampanye hitam yang ditujukan pada Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta yang saat itu mencalonkan diri sebagai Presiden. Tidak hanya lewat tulisan, hoax, dll tapi juga lewat tabloid.

Kampanye Pilkada DKI Jakarta juga bisa menjadi contoh atas kampanye hitam. Begitu hebatnya sampai-sampai masyarakat terbelah. Persis seperti ilmu hitam saja, pelakunya tidak tampak tapi akibatnya tampak jelas.

Menjelang pilkada serentak tahun ini kampanye hitam juga sudah mulai. Korbannya bakal calon Gubernur Jawa Timur, Azwar Anas, yang diusung PDIP, berpasangan dengan Syaifulah Yusuf yang saat ini masih menjabat Wakil Gubernur Jatim aktif.

Fotonya bersama seorang perempuan yang bukan muhrimnya beredar di media sosial. Tidak kuat mental, Anas pun segera mengembalikan mandat kepada partai pengusung. PDIP amat terpukul karena Anas dinilai calon yang punya massa dari segala lapisan, mulai kiai sampai generasi milenial. Sementara Wali Kota Surabaya Risma Harini yang digadang bisa menggantikan Anas, menolak. Anas kini masih menjabat sebagai Bupati Banyuwangi. Posisinya sebagai bakal cawagub digantikan cucu Presiden RI Soekarno, Puti Guntur Soekarno.

Kasus seperti ini bisa terjadi di mana saja, di negara paling demokratis seperti Amerika Serikat sekalipun. Gary Hart, seorang calon Presiden dari Partai Demokrat yang akan terjun dalam pilpres tahun 1988 mundur di tengah dukungan kuat rakyat AS karena fotonya yang tengah memangku perempuan bukan istrinya, Donna Rice, jadi viral (Kompas 11/1/2018).

Tapi dukungan rakyat tetap menentukan. Presiden Bill Clinton yang kasus pornografinya terbongkar saat dia masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat tahun 1997 tetap saja aman. Dia dituduh melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap sekretaris pribadinya, Monica Lewinsky di ruang oval. Yang membongkar Monica sendiri dengan bukti pakaiannya yang ada noda sperma.

Donald Trump pun yang diketahui banyak orang sebagai playboy dan banyak perempuan dalam hidupnya, tetap bisa mencalonkan diri dan menang.

***

Tapi Azwar Anas memang bukan Clinton atau Trump. Sebenarnya dia tidak akan kehilangan kredibilitas sebagai seorang pemimpin. Namun, foto sudah telanjur beredar, mundur atau tetap menjadi bupati stigma juga tetap ada. Akan lebih baik kalau dia lawan kampanye hitam itu dengan prestasi yang menonjol setelah terpilih. Jadi mestinya dihadapi saja tak perlu ngumpet.

Apapun bentuknya kampanye hitam itu tidak sehat, menunjukkan ketidak mampuan untuk menyaingi lawan sehingga dicari cara pamungkas, salah satunya lewat kampanye hitam. Kampanye hitam bisa dilakukan dengan cara apa pun, termasuk mengancam lewat massa, SARA, membakar kebencian dan intoleransi.
Kampanye hitam atau Ilmu hitam apapun tak bisa mengalahkan suara rakyat, contohnya Jokowi. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved