Heboh Video Mesum Pelajar Banjarmasin

Heboh Video Mesum Pelajar, Begini Saran Psikolog untuk Orangtua

Kenakalan remaja agar tidak terjerumus ke perilaku yang menyimpang termausuk agar menghindari perilaku seks bisa diminimalisir

Heboh Video Mesum Pelajar, Begini Saran Psikolog untuk Orangtua
istimewa
Emma Yuniarrahmah 

BANJARMASIN POST.CO.ID, BANJARMASIN - Kenakalan remaja agar tidak terjerumus ke perilaku yang menyimpang termausuk agar menghindari perilaku seks bisa diminimalisir dengan beberapa cara.

Berikut menurut psikolog, Emma Yuniarrahmah, S.Psi., M.A.l selaku
Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Menurut dia Kenakalan remaja terus meningkat sesuai dengan perkembangan zaman. Kemajuan teknologi dapat memicu beragamnya kenakalan yang dilakukan oleh remaja.

Namun menurut dia, kita tidak bisa mengabaikan atau menghindari perkembangan zaman & kemajuan teknologi tersebut.

Baca: Gadis Cilik Ini Adalah Jurnalis Termuda di Dunia, Dia Tak Gentar Menghadapi Tentara Israel

Baca: Heboh Video Mesum, Identitas Pelaku Belum Terkuak, Benarkah Pelajar dari Sekolah di Banjarmasin?

"Perlu strategi khusus bagi kita, khususnya orangtua supaya bisa mencegah anak remajanya untuk tidak ikut melakukan perilaku kenakalan tersebut. Kuncinya adalah pola pengasuhan yang tepat Karena dengan pola pengasuhan yang tepat akan membuat tonggak atau pondasi yang kokoh sebagai landasan perilaku anak ke depannya, " kata dia.

Orangtua harus mampu memahami kondisi fisik dan psikologis anak masing-masing sehingga dapat merespon hal-hal yang terjadi pada anak remaja secara tepat.

Baca: Heboh Video Mesum, Identitas Pelaku Belum Terkuak, Benarkah Pelajar dari Sekolah di Banjarmasin?

"Pada masa remaja memang sangat rentan terhadap perilaku kenakalan karena perubahan fisik & dan psikologis yang dialami membuat mereka mengalami "goncangan psikologis" dalam rangka mencari identitas diri mereka. Oleh karena itu, jadilah orangtua yang dapat memahami kondisi anak remajanya denga cara lebih mendekatkan diri bersama mereka," urai dia.

Disebutkan dia, perlakukan anak remaja layaknya orang dewasa namun tetap harus melakukan kontrol terhadap perilaku mereka.

Baca: Unik, Semua Karyawan di Tempat Cucian Motor ini Pakai Bahasa Isyarat

Beri kepercayaan kepada mereka untuk melakukan hal-hal yang positif, jadikan mereka sebagai partner sharing persoalan-persoalan sosial, pribadi, hargai usaha-usaha positif mereka, dan ajak mereka untuk berpikir dampak positif negatif terkait perilaku-perilaku yang akan dilakukan.

Sehingga anak remaja tidak merasa hanya "diperintah" dan "diatur" ini itu terkait dengan perilaku mereka, tanpa mereka diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help