Bacaan Generasi Milenial

You are what you eat (kamu adalah apa yang kamu makan). Demikian ungkapan yang sering kita dengar ketika orang berfilsafat soal makanan.

Bacaan Generasi Milenial
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

You are what you eat (kamu adalah apa yang kamu makan). Demikian ungkapan yang sering kita dengar ketika orang berfilsafat soal makanan. Yang kita makan itu halal atau haram, bergizi atau tidak, enak atau tidak, murah atau mahal, dan seterusnya, merupakan cerminan dari siapa diri kita. Selain makanan, yang lebih menentukan siapa diri kita adalah pikiran kita, yang antara lain dibentuk oleh bacaan kita.

Tahun 2017 lalu, Tim Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah, melaksanakan penelitian tentang literatur keislaman yang beredar di kalangan siswa dan mahasiswa generasi milineal yang lahir dalam rentang 25 tahun terakhir pada 16 kota di Indonesia. Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang Islam yang ada di kepala generasi muda kita.

Kesimpulannya adalah, anak muda zaman now bacaannya campur aduk. Untuk literatur Islam, mereka membaca yang radikal sekaligus yang pop. Yang paling banyak dibaca adalah yang pop seperti novel karya Habiburrahman, Tere Liye, dan Asma Nadia serta penghalau galau karya Aid al-Qarni, La Tahzan. Ada pula tulisan tokoh Hizbut Tahrir, Felix Siauw. Namun hanya sedikit yang membaca literatur jihadis.

Karena penelitian ini umumnya dilaksanakan di perkotaan, kemungkinan fenomena ini belum merata sampai ke sudut-sudut kabupaten dan desa. Mungkin pula, kebanyakan siswa dan mahasiswa yang diteliti berasal dari kelas menengah. Literatur keislaman di pesantren dan pengajian juga belum diliput. Belum ada juga perbandingan antara literatur keislaman dan literatur ‘sekuler’ yang diakses mereka.

Namun, gejala generasi muda yang galau menghadapi kepanikan moral dan masa depan yang gamang, kiranya cukup merata di negeri ini, di manapun dan siapa pun. Dalam kepanikan moral, mereka mencari pegangan yang kuat. Cara berpikir kaum radikal yang hitam-putih serta memberikan impian masa depan (seperti khilafah), betapapun absurd-nya, rupanya dapat memberikan kepastian pegangan itu.

Selain itu, literatur yang disukai adalah yang menggunakan bahasa dan idiom yang akrab sekaligus baru. Judul seperti Ayat-ayat Cinta, Gaul ala Rasul, Yuk Berhijab! dan seterusnya jelas terasa kekinian. Desain sampul bukunya juga indah dan menggoda. Anak-anak muda itu haus akan bacaan yang memahami suasana hati dan problematika yang mereka hadapi sekaligus memberikan jalan keluar dan harapan.

Sementara itu, buku-buku keislaman yang serius, yang ditulis oleh para pemikir Muslim Indonesia, tidak populer di kalangan anak muda. Bahkan buku tokoh-tokoh Islamis Ikhwanul Muslimin yang dulu banyak diterjemahkan, sekarang tidak lagi dibaca oleh generasi milineal. Mereka hanya membaca karya-karya penulis lapis kedua atau ketiga, yang menguraikan gagasan-gagasan para tokoh itu, dalam bahasa gaul.

Apakah gerakan Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah akan membiarkan semua ini berjalan sesuai selera pasar? Bagaimana pula sikap Perguruan Tinggi Islam? Saya kira, di era pasar bebas ini, sudah selayaknya para pemikir Islam yang moderat dan nasionalis turut serta menyumbangkan karya-karya mereka yang sesuai dengan kebutuhan dan bahasa generasi milenial.

Menulis tentu tidak hanya di media cetak, tetapi juga elektronik. Apalagi, generasi milenial umumnya lebih banyak membaca gawai ketimbang membaca buku. Tak sedikit anak muda sekarang yang belajar agama hanya melalui media sosial. Karena itu pula, popularitas seorang penulis seringkali ditunjang oleh popularitasnya di media sosial. Bahkan, kini terbitan elektronik mulai mengalahkan terbitan cetak.

Alhasil, seperti slogan kaum akademisi: publish or perish (menulis atau habis). Jika seorang akademisi tidak menulis artikel atau buku hasil penelitian, maka karirnya akan habis. Sekarang, soalnya lebih berat. Jika para ulama dan cendekiawan tidak mau menulis untuk generasi milenial, maka jangan terkejut jika anak cucu kita kelak semakin radikal dan eksklusif. Jangan lupa, you are what you read and write!. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved