Berita Banjarbaru

Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Ambil Darah Warga Binaan Lapas Banjabaru, Ini Tujuannya

Komisi Penanggulangan HIV AIDS (KPA) Kota Banjarbaru, Sabtu (27/1/18) melakukan tes HIV AIDS di Lembaga Pemasyarakatan

Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Ambil Darah Warga Binaan Lapas Banjabaru, Ini Tujuannya
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Komisi Penanggulangan HIV AIDS (KPA) Kota Banjarbaru, Sabtu (27/1/18) melakukan tes HIV AIDS di Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjarbaru. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Komisi Penanggulangan HIV AIDS (KPA) Kota Banjarbaru, Sabtu (27/1/18) melakukan tes HIV AIDS di Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banjarbaru.

Dari keseluruhan Warga binaan pemasyarakatan yang berjumlah 689 orang, sekitar 150 warga binaan di Lapas Banjarbaru diambil sampel darahnya oleh petugas Voluntary Conseling Tes (VCT) untuk melacak keberadaan penderita HIV/AIDS.

Ketua Komisi Penanggulangan HIV Aids (KPA) Edi Sampana menjelaskan, pengambilan sampel darah bagi warga binaan pemasyarakatan terutama napi narkotika, karena mereka ini termasuk kelompok risiko tinggi HIV/AIDS.

"Kegiatan hari ini merupakan tes awal untuk mendeteksi HIV/AIDS, setelah dilakukan uji laboratorium baru dirilis hasilnya," beber Edi Sampana

Baca: Presenter BBC Mencari Gadis Rimba yang Ditemuinya 20 Tahun Lalu di Hutan Sumatera, Usai Kabar Ini

Baca: Malangnya Nasib TKI Korea Ini, Kekasih Bilang Tak Siap Menikah, Uang 500 Juta Pun Raib

Dari ratusan warga binaan yang antre tes HIV AIDS, salah satunya terdakwa kasus narkoba mengaku dan mendukung pengambilan sampel darah tersebut, agar warga binaan yang mengidap HIV AIDS dapat terdeteksi lebih dini.

Sementara itu, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Banjarbaru Akhmad Heriansyah mengatakan, warga binaan yang memiliki berbagai latar belakang kasus narkoba, sangat berpotensi menderita HIV AIDS.

Ditambahkannya, tes darah merupakan tes awal untuk mendeteksi penyakit HIV AIDS.

Jika dari tes darah tersebut ditemukan adanya warga binaan reaktif HIV AIDS, pihaknya akan langsung lakukan penanganan khusus.

Baik itu menyiapkan petugas pendamping dan menempatkannya di ruang isolasi khusus.

"Bila memang ada yang positif kita akan kerjasama dengan pihak medis. Bahkan bila perlu kita akan suplai obat dari luar. Sehingga risiko menular penyakit tidak berdampak ke napi lainya," katanya.

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved