Home »

Kolom

» Tajuk

Menanti Pergub Taksi Daring

Seperti yang terjadi sekarang ini, taksi online dan taksi konvensional. Selalu saja terjadi persoalan di antara mereka.

Menanti Pergub Taksi Daring
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

KALAU terkait urusan perut atau piring nasi orang banyak, pemerintah harus serius menyikapinya dan cepat menanganinya. Jika tidak, konflik yang menjurus pada terjadinya kontak fisik akan selalu terjadi. Kondisi ini tentu saja tidak mengenakan bagi kita semua.

Seperti yang terjadi sekarang ini, taksi online dan taksi konvensional. Selalu saja terjadi persoalan di antara mereka. Sopir taksi konvensional yang sudah lama beroperasi merasa piring nasi mereka direbut orang lain.

Kasus yang terbaru terjadi Sabtu (27/1) sore, di depan Toko Minseng, Banjarmasin. Seorang pengemudi taksi online dicegat dan mendapat perlakuan kasar yang dilakukan beberapa lelaki yang diduga pengemudi angkutan kota. Untungnya kasus ini cepat didamaikan pihak kepolisian.

Sebenarnya antara sopir taksi online dan sopir taksi konvensional sudah ada kesepakatan, sejak November 2017 lalu. Kesepakatan itu memuat tentang kuota, angkutan konvesional akan dan boleh bergabung menjadi angkutan daring (online), batas wilayah, serta tarif batas atas dan batas bawah. Selain itu taksi daring sudah diatur dalam Permen 108 tentang Taksi Daring.

Di lapangan, kesepakatan itu tidak ada artinya. Karena itu perlu sikap tegas dari pemerintah untuk menangani hal ini. Salah satu caranya dengan mempercepat dikeluarkannya Pergub Taksi Daring di Kalsel. Saat ini draftnya sudah berada di meja gubernur.

Selama menunggu hadirnya Pergub Taksi Daring itu, ada baiknya pemerintah melalui instansi-instansi terkait melakukan pendekatan yang berkelanjutan kepada para sopir taksi online untuk menahan diri agar tidak beroperasi dulu. Tidak hanya sekali pertemuan, kemudian selesai.

Bagi para sopir taksi online, penghentian sementara beroperasi itu menjadi masalah tersendiri. Salah satunya mereka akan kena finalti bila tidak memenuhi target bulanannya. Makanya terkadang ada sopir taksi online yang beroperasi secara diam-diam untuk menghindari finalti tersebut. Karena itulah perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap sopir taksi online, sebelum Pergub Taksi Daring diterbitkan dan disosialisasikan.

Yang tidak kalah penting, selain masalah sopirnya, layanan kepada para pengguna jasa taksi juga harus diperhatikan. Semoga hal ini juga ada dalam Pergub Taksi Daring. Setidak ada dua hal yang harus diperhatikan yakni kenyamanan armada taksinya dan perilaku sopir.

Bagi taksi online, dua hal tersebut sudah terpenuhi. Armada taksi misalnya, rata-rata armada yang mereka pakai milik pribadi, sehingga joknya masih empuk, AC-nya masih okey dan tercium wangi. Sedangkan perilaku, sopir taksi online sangat terjaga alias cukup baik. Karena mereka dinilai langsung oleh konsumen. Kalau tidak puas, konsumen langsung bisa memberinya bintang satu.

Maaf bukan bermaksud menjelekkan. Kondisi beda terjadi dengan armada taksi konvensional. Rata-rata armadanya sudah tua. Ini tentu saja perlu peremajaan. Jika tidak mau, mereka akan berhadapan langsung dengan konsumen. Konsumen punya kuasa penuh untuk memilih armada taksi yang terbaik baginya. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help