Waduh, Pariwisata Yogyakarta Disebut Kehilangan Roh, Ini Tanda-tandanya

Kunjungan wisatawan yang ke Yogyakarta, beberapa tahun terakhir meningkat. Namun, kondisi ini kurang diimbangi

Waduh, Pariwisata Yogyakarta Disebut Kehilangan Roh, Ini Tanda-tandanya
tribunjogja/jihadakbar
Malioboro, Senin (4/4/2016) pagi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, YOGYAKARTA - Kunjungan wisatawan yang ke Yogyakarta, beberapa tahun terakhir meningkat.

Namun, kondisi ini kurang diimbangi dengan mempertahankan budaya dan identitas masyarakatnya, dengan berdirinya banyak hotel.

"Orang pergi ke Yogyakarta itu mencari yang khas seperti logo, dusun dan tradisionalnya. Ketika artefak (Bangunan) kita tidak berbeda yang coba sekarang mall, hotel, hingga jalannya macet. Yogyakarta kehilangan ruh Jogja, ruh jogja itu wisatawan (seperti) lagu KLA (isi lagu Yogyakarta)," kata Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Ma'ruf seusai menjadi pembicara dalam draf rancangan awal rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) tahun 2019 di Kantor Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Jumat (2/2/2018).

Ia mencontohkan, Malioboro meski masih memiliki daya tarik tersendiri, tetapi sudah jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu.

Baca: Link Live Streaming Piala Presiden 2018 : Mitra Kukar Vs Persija Jakarta 30 Menit Lagi!

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah kabupaten Gunungkidul untuk menangkap potensi tersebut.

"Gunungkidul itu (obyek) wisatanya lengkap, pantai, goa, dan desa,"ucapnya.

Selain itu, rasa solidaritas tinggi diketahui masih adanya interaksi bertegur sapa antara wisatawan dan warga.

Dia berharap modal sosial masyarakat tersebut harus tetap dijaga meski kunjungan wisata meningkat.

"Saya menemukan (modal sosial) itu di Bantul dan Gunungkidul. Untuk itu kami terus mendorong agar terus dipertahankan. Identitas budaya masyarakat jangan digeser," tuturnya.

Halaman
12
Editor: Ernawati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help