Dilan, Fahri dan Sufi

Ketika menulis tentang seorang tokoh dalam cerita, Habiburrahman dan Pidi Baiq tentu tidak bisa lepas dari impian dan kenyataan.

Dilan, Fahri dan Sufi
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

DALAM beberapa hari ini, ada semacam demam Dilan di media sosial setelah film itu tayang di bioskop. Sebelumnya, cukup ramai pula kicauan orang perihal Fahri, setelah tayang film Ayat-Ayat Cinta 2. Orang-orang bercanda dan berdiskusi mengenai karakter para tokoh utama itu. Apakah mereka ada dalam kenyataan atau impian belaka? Jika hanya impian, adakah manfaatnya?

Sayang, saya tidak/belum menonton kedua film itu. Namun saya tertarik pada diskusi perihal tokoh utama yang dianggap sebagai representasi idola anak muda. Pokok soalnya adalah, apakah seorang idola yang menjadi panutan dan teladan, harus sempurna ataukah boleh memiliki kekurangan? Dalam kenyataan, kekurangan adalah manusiawi. Namun, dalam impian, kekurangan bisa diabaikan.

Tak dapat disangkal, manusia hidup dalam kedua-duanya. Impian dan kenyataan. Impian adalah ranah cita-cita dan harapan, sedangkan kenyataan adalah ranah tindakan dan perjuangan. Tanpa impian, hidup manusia tidak akan bergairah dan terarah. Tanpa kenyataan, impian adalah khayalan belaka. Inilah salah satu keunikan manusia dibanding makhluk lainnya. Saya kira, hewan tak punya impian.

Ketika menulis tentang seorang tokoh dalam cerita, Habiburrahman dan Pidi Baiq tentu tidak bisa lepas dari impian dan kenyataan. Impian yang dimaksud di sini adalah gambaran ideal dan seharusnya tentang manusia yang baik sesuai dengan tata nilai yang dipegang oleh masyarakat. Sedangkan kenyataan adalah keberhasilan dan kegagalan manusia mewujudkan tata nilai itu dalam perilaku sehari-hari.

Manakah yang lebih penting, impian atau kenyataan? Sejak ribuan tahun silam, para pemikir sudah ‘bertengkar’ soal ini. Menurut kaum idealis, gagasan atau impian itu lebih sempurna dari kenyataan. Kenyataan hanyalah bayangan dari gagasan. Namun, kaum realis berpendapat sebaliknya. Kenyataan adalah kebenaran. Impian belum menjadi kebenaran jika masih dalam pikiran, bukan kenyataan.

Bagi kaum idealis, contoh haruslah ideal. Tokoh cerita yang karakternya nyaris tanpa cacat akan sangat pas dijadikan rujukan keteladanan. Sebaliknya, bagi kaum realis, karena karakter sempurna itu sangat sulit diwujudkan, maka orang akan menganggapnya sekadar impian yang tak perlu diteladani. Tokoh baik yang memiliki kekurangan lebih dekat dengan kenyataan sehingga masih mungkin diteladani.

Para sufi menyelesaikan dilema ini dengan mengembalikan kesempurnaan sejati hanya milik Tuhan. Bagi kaum Sufi, aneka impian manusia tentang yang baik dan ideal, sebenarnya adalah gejala kerinduan manusia pada Tuhan. Karena manusia ini tidak sempurna, kerinduan pada yang sempurna itu tidak akan pernah sirna. Kerinduan itu hanya bisa diobati melalui perjumpaan hati dengan Yang Maha Sempurna.

Bagi kaum Sufi, kenyataan adalah ‘bayangan’ atau ‘penampakan’ dari nama-nama dan sifat-sifat Tuhan sebagai bukti bagi kehadiran-Nya, bukan keseluruhan Diri-Nya. Karena itu, kesempurnaan yang mungkin bagi makhluk hanyalah kesempurnaan penampakan bagi nama dan sifat itu. Manusia sempurna (insân kâmil) yakni Nabi Muhammad, tidak berarti bahwa dia sama dengan Tuhan Yang Maha Sempurna.

Selain itu, kesempurnaan juga terkait dengan kebahagiaan. Kesempurnaan itu membahagiakan, dan kekurangan itu mengecewakan. Karena manusia sebagai makhluk tak sunyi dari kekurangan, maka dia tak bisa lepas dari keburukan di dunia ini. Dia berhasil dan gagal. Dia sehat dan sakit. Dia berbuat baik dan berbuat jahat. Manusia yang selalu berhasil, baik dan sehat, bukan manusia dalam kenyataan.

Jika manusia tak bisa lepas dari kekurangan, apakah dia dapat meraih kebahagiaan? Ya. Manusia akan meraih kebahagiaan jika dia mendapatkan kebaikan dengan penuh rasa syukur, sama halnya kebaikan itu diberikan Allah tanpa usaha manusia ataupun melalui usaha yang dilakukannya. Adapun kekurangan yang tak dapat diubah, sikap batin yang membahagiakan adalah menerima kenyataan dengan ikhlas.

Alhasil, Dilan, Fahri atau siapapun yang diidolakan atau dihadirkan sebagai idola, semuanya merupakan pantulan dari kerinduan manusia akan kebaikan, kebahagiaan dan kesempurnaan. Ketiganya dalam satu tarikan napas yang berujung pada Dia Yang Maha Sempurna. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved