Home »

Kolom

» Tajuk

Menunggu ‘Nyanyian’ Setnov

Dan, fakta itu tergambar gamblang di mana kejujuran bukan lagi sesuatu yang masih ada dan tumbuh pada diri mereka.

Menunggu ‘Nyanyian’ Setnov
BPost Cetak
Ilustrasi 

GEMAS! Ya, seolah kita semua sudah habis kata-kata untuk menggambarkan kejengkelan terhadap kekerdilan para elite politik di negeri. Berkelit, berdalih, dan berdusta seolah telah menjadi perilaku yang jamak di kalangan mereka. Mereka merasa bersih dan tidak tahu atas apa yang telah mereka perbuat.

Dan, fakta itu tergambar gamblang di mana kejujuran bukan lagi sesuatu yang masih ada dan tumbuh pada diri mereka. Dan, megaskandal proyek E-KTP adalah fragmen konyol yang diperlihatkan mereka di depan hukum.

Seperti kita semua selama ini mencermati megaskandal proyek E-KTP yang bergulir di meja persidangan, tak satu pun elite politik mengakui bahwa mereka menikmati uang haram tersebut. Dan, jurus ‘ngeles’ menjadi cara ampuh mereka menampik tuduhan penuntut umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi.

Satu per satu, elite politik di Senayan yang (sementara) masih berstatus sebagai saksi, mengaku tidak pernah menerima bagian dari proyek E-KTP. Kalaupun membenarkan ada bagi-bagi uang bancakan, mereka ‘merasa’ tak pernah mendapat bagian. Hampir semua mereka yang masuk dalam daftar kasus itu ramai-ramai menyuarakan kata; ‘tidak benar’!

Terlepas benar tidaknya apa yang disuarakan mereka, faktanya, uang rakyat untuk proyek E-KTP itu menyusut triliunan rupiah, dan tidak diketahui kemana peruntukkannya. Dan, lembaga antirasuah itu pun mendeteksi kemana sebenarnya uang itu ‘berlabuh’. Sejumlah elite politik di Senayan, pengusaha, dan birokrat disebut-sebut menerima aliran uang haram tersebut. Tapi, seperti yang kita saksikan, hampir semua mengaku tidak tahu dan tidak menerima uang dari proyek E-KTP tersebut. Lucunya, masing-masing justru saling tuding dan menyalahkan satu sama lain.

Kabar terbaru, Setya Novanto --mantan pemegang kendali di parlemen yang namanya paling santer disebut terlibat proyek E-KTP dan sudah berstatus tersangka-- ingin buka-bukaan kemana saja berlabuhnya uang triliunan itu. Setya Novanto yang terpaksa harus rela menyerahkan kursi ketua DPR RI dan pucuk pimpinan di Partai Golkar, kabarnya mengajukan diri sebagai justice collaborator.

Tentunya kita semua berharap jika memang keinginan Setya Novanto disetujui KPK, diharapkan bisa benar-benar terungkap siapa saja sebenarnya yang ikut ‘menampung’ uang proyek E-KTP. Setidaknya, para politisi di Senayan yang namanya bakal diungkap Setya Novanto, sulit untuk bisa berkelit. Kini tinggal KPK apakah bisa benar-benar menjaring mereka untuk diposisikan seperti Setya Novanto.

Setidaknya, dengan status seperti Setya Novanto, bukti keterlibatan mereka sudah 90 persen di mata hukum. Dan, rasanya akan sangat konyol jika mereka masih tetap berdusta bahwa mereka ‘bersih.’  Kini tinggal pemegang palu keadilan agar mencermati secara jernih kasus itu sesuai dengan nafas hukum yang berkeadilan. Akan sangat bijak jika bunyi ketukan palu itu benar-benar menyuarakan rasa keadilan, bukan nada keramaian! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help