Kriminalitas Tanahlaut

Ayah Lagi ke Undangan, Anak Perkosa Gadis di Bawah Umur Hingga Menangis

Pengadilan Negeri Pelaihari menunjuk anggota Posbakum, Hj Sunarti sebagai penasihat hukum terdakwa Ahmad Suhaili alias Suhai (20).

Ayah Lagi ke Undangan, Anak Perkosa Gadis di Bawah Umur Hingga Menangis
Via tribun manado
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Kasus pencabulan terhadap anak di Desa Batibati, Kecamatan Batibati, Kabupaten Tanahlaut bergulir di Pengadilan Negeri Pelaihari, Rabu (7/2/2018).

Pengadilan Negeri Pelaihari menunjuk anggota Posbakum, Hj Sunarti sebagai penasihat hukum terdakwa Ahmad Suhaili alias Suhai (20).

Warga Desa Batibati, Kecamatan Batibati, Kabupaten Tanahlaut didakwa jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Tanahlaut, melanggar pasal 81 ayat 1 Undang-Undang tentang Perlindungan Anak.

Baca: Tolak Lamaran, Mahasiswi Kedokteran Ini Ditembak Mati, Saat Sekarat Ini yang Terjadi

Baca: Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan Ikut Kontes Kecantikan Sampai Final, Endingnya Sungguh Mengagetkan

Humas Pengadilan Negeri Pelaihari, Boedi Haryantho yang juga Wakil Ketua Pengadilan Negeri Pelaihari ini membenarkan bahwa prosesnya mendengar dakwaan jaksa.

Menurut Boedi Haryantho, sidang perkara anak sebagai korban asusila dilaksanakan secara tertutup. "Sidang kasus asusila terbuka untuk umum hanya saat pembacaan putusan majelis hakim," katanya.

Baca: Edan! Demi Film Dilan 1990, Pasangan Ini Menyewa Satu Studio Demi Berduaan

Humas Pengadilan Negeri Pelaihari, Boedi Haryantho
Humas Pengadilan Negeri Pelaihari, Boedi Haryantho (Mukhtar Wahid)

Informasi dihimpun, tiga bulan yang lalu, korban diajak temannya berkunjung ke rumah sesorang yang belakang diketahui bernama panggilan Pilu.

Ternyata di rumah Pilu, kondisinya sepi hanya ada pelaku dan Pilu. Orangtua Pilu sedang tidak menghadiri undangan. Saksi asyik berdua dengan Pilu di kamar. Saksi menunggu di pelatar rumah bersama pelaku.

Pelaku ini yang kemudian melancarkan rayuan hingga akhirnya korban berhasil diperdayai pelaku. Meski sempat meronta dan menangis, pelaku tetap memaksa korban melakukan hubungan intim.

Upaya mediasi dilaksanakan. Cuma gagal karena orangtua pelaku mampu membayar mahar pernikahan setelah kasus diadukan ke polisi. Kasus tidak dapat dicabut karena korban berusia dibawah umur atau belum 17 tahun.

Kepala Desa Batibati, H Musmulyadi dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya sudah berupaya melakukan mediasi. Itu karena korban dan pelaku masih punya hubungan kekerabatan.

"Korban memanggil saya kakek. Korban sempat trauma beberapa pekan. Saat ini sudah kembali sekolah ikut program paket di Pelaihari," katanya.

Musmulyadi berharap dengan peristiwa itu akan memberikan efek jera bagi para pemuda dan remaja agar tidak mudah menuturkan hawa nafsu kalau tak ingin berujung penjara. (Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved