Berita HSS

Belum Mulai Musim Tanam, HSU Sulit Bantu Program Sergap Menteri Pertanian

Target program sergap yaitu pada bulan Juni dan kemungkinan pada bulan tersebut masih belum memasuki masa panen.

Belum Mulai Musim Tanam, HSU Sulit Bantu Program Sergap Menteri Pertanian
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman saat panen di HSS (Kominfo HSS) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Menteri Pertanian membentuk tim serap gabah petani tim (Sergap) yang menargetkan serap gabah 2,2 juta ton hingga Juni 2018. Namun sayangnya untuk di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sulit untuk membantu menyukseskan program tersebut.

Pasalnya Kabupaten HSU hanya melakukan tanam padi satu kali dalam setahun yaitu pada musim kemarau. Kepala Dinas Pertanian Hsu Ilman Hadi mengatakan program sergap bekerja sama dengan Kodim 1001 Amuntai.

Namun di Kabupaten Hsu masih belum memasuki masa tanam hanya sebagian di lahan Lebak dangkal yang luasnya hanya sekitar 1500 hingga 1700 hektar. Hasil panen di lahan Lebak dangkal kemungkinan mulai panen pada bulan Maret 2018. Namun sebagian besar hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan beras di lingkungan Kabupaten.

Baca: Ngeri, Rambut Perempuan Ini Tercabut Bersama Kulitnya Akibat Terlilit Mesin Perahu

Target program sergap yaitu pada bulan Juni dan kemungkinan pada bulan tersebut masih belum memasuki masa panen.

Sebagian besar warga juga lebih memilih untuk menjual hasil panen padi ke pasar mengingat harga yang lebih mahal dibanding menjual gabah ke Bulog. " petani jelas mencari untung yang lebih banyak, tak bisa menyalahkan mereka karena petani pun mencari yang lebih mudah dan harga lebih tinggi," ujarnya.

Untuk menjual hasil pertanian ke Bulog petani biasanya menjual ke pengumpul yang kemudian menjual kembali ke Bulog yang berada di Barabai Kabupaten HST.

Ketua kelompok tani Sukamaju desa kandang Halang Kecamatan Amuntai Tengah Iwan mengatakan saat ini anggotanya masih belum melakukan tanam padi. Masa tanam Diperkirakan akan dimulai pada awal April melihat kondisi lahan dan telah pada musim kemarau.

Baca: BREAKINGNEWS: Mobil APV Masuk Sungai di Mandastana Tiga Tewas

Iwan menambahkan biasanya dirinya beserta anggota menjual hasil pertanian dalam bentuk gabah kepada pengumpul yang dijual kembali ke pasar. Dirinya mengaku belum pernah menjual hasil pertanian ke Bulog karena mengetahui informasi bahwa dibeli dengan harga lebih murah.

Sedangkan jika menjual hasil pertanian di pengumpul untuk gabah berkualitas baik dibeli dengan harga Rp 46.000 per kg, untuk kualitas sedang dibeli dengan harga Rp 40.000 per kg, dan untuk gabah yang jelek karena terendam air atau berwarna merah dibeli dengan harga Rp 35.000 per kg.

"Kami belum pernah menjual hasil pertanian langsung ke Bulog, cara menjual ke sana pun tidak kami ketahui," ungkapnya. (*)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved