Jalan Kewalian

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan ia ingat nama Tuhannya, lalu ia (mendirikan salat).”

Jalan Kewalian
dok BPost
KH Husin Naparin

Oleh: KH HUSIN NAPARIN
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Ajaran-ajaran sempalan (hampir semisal kendati tak sama), para tokohnya mengajarkan penistaan syariat Allah (seperti meninggalkan salat atau salat yang diajarkan tidak sesuai syariat).

Ajaran sempalan muncul karena: 1) Al Jahlu biddin, jahil terhadap ajaran Islam, 2) At-taqarraub bigairi syari’ah, ingin mendekatkan diri kepada Allah tanpa syariat, 3) Hubbusy-syuhrah (ingin popularitas), 4) Hubbud dunya (mendapatkan materi dengan mudah), dan 5) As-siyasah (faktor politik, adanya kalangan tertentu yang ingin menghancurkan Islam dari dalam).

Kiranya umat Islam mawas diri. Banyak orang ingin menjadi wali. Kewalian seperti halnya magnet, tulis Prof H Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin (30/10/2017) berjudul Magnet Kewalian. Dalam terminologi tasawuf “Wali adalah orang yang dikasihi dan dekat dengan Allah berkat kebersihan hatinya, kemuliaan akhlaknya dan ketekunan ibadahnya.”

Kebersihan hati, kemuliaan akhlak dan ketekunan ibadah tertuang di dalam Alquran, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan ia ingat nama Tuhannya, lalu ia (mendirikan salat).” (QS. Al‘Ala ayat 14 dan 15). Lewat ayat ini kita tahu bahwa para wali Allah itu memiliki tiga karakteristik, yaitu;

Pertama tazkiyatun-nafs (kebersihan jiwa). Bersih yang mereka gapai yaitu; bersih akidah dalam arti segala akti­fi­tas hanya mencari rida Allah, bersih hati dari segala penyakit hati (seperti angkuh, ingkar, dengki dan serakah), bersih pergaulan dari segala silang-sengketa dengan siapa pun dan bersih harta dari segala yang haram dan syubhat, bahkan mereka menjauhi keborosan.

Kedua dzikrullah yang mantap. Para wali menempatkan dzikir di tiga tempat dalam diri mereka, yaitu : 1) Dzikir lafdzi, lidah selalu menutur nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, plus kalimah-kalimah thayyibah. 2) Dzikir qalbi, dimana perasaan keberadaan Allah tak pernah lepas. 3) Dzikir hakiki. Menurut mereka, dzikir bukan sekadar lantunan asma Allah di lidah dan pengakuan akan kebesaran-Nya, tetapi sikap hidup dalam menghadapi dua kondisi yang datang dari Allah, yaitu nikmat (kesenangan) dan niqmat (kesusahan).

Dalam nikmat mereka berdzikir dengan sikap syukur, sebab jika tidak, akan jatuh kepada kufur; dan dalam niqmat mereka berdzikir dengan sikap sabar, sebab jika tidak, akan jatuh kepada ya’su (putus asa).

Dua kondisi berikutnya yang muncul dari diri sendiri, yaitu ta’at dan maksiat. Dzikir dalam ta’at ialah ikhlas; bila tidak, jatuh kepada riya dan dzikir ketika terjerumus ke dalam kemaksiatan adalah taubat jika tidak jatuh kepada ishrar (melanjur diri dalam maksiat).

Ketiga ibadah salat yang khusyuk dan da’im (terus-menerus). Allah menyembunyikan siapakah sebenarnya wali-walinya itu, di antara manusia ciptaan-Nya, agar seseorang tidak merendahkan antar sesama; sebagaimana Dia menyembunyikan rida-Nya di antara ketaatan para hamba-Nya, agar seseorang selalu berjuang untuk berbuat taat; Dia juga menyembunyikan murka-Nya di antara kemaksiatan, agar seseorang selalu menjauhi semua kemaksiatan; Dia juga menyembunyikan lailatul qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan agar seseorang selalu meningkatkan ketaatan sepanjang malam; Dia juga menyembunyikan nama agung-Nya (Ismuhul’azham) di antara nama-nama-Nya agar seseorang gandrung berdoa dengan semua nama-Nya itu. (Muhammad Kamaluddin, Lawa mi’al-Is’ad fi Jawami’ al-i‘dad, hal. 46, Mishr, 1936)

Masyarakat muslim gemar membaca manakib para wali, kebanyakan mereka takjub dengan keramat para wali Allah, sedikit yang mau merenungi mengapa wali mendapat keramat, dan bahkan sedikit sekali yang berusaha mau mengikuti amaliah mereka.

Mujiburrahman menambahkan, karena wali sejati itu langka, maka tak jarang muncul wali-wali palsu. Mereka berpura-pura saleh dan mengaku memliki keramat yakni keajaiban yang melampaui hukum alam. Padahal ujung-ujungnya penipuan.

Wali Allah yang benar adalah mereka yang berpegang pada syariat Allah. Sahl at-Tusturi berkata “Dasar tarikat kita (kewalian itu) adalah: berpegang pada kitab Allah, mengikuti sunnah rasul, memakan yang halal, menghindari segala kekejian, menjauhi kemaksiatan, istiqamah dalam taubat dan menunaikan segala kewajiban.”

Abu Yazid Al Bustami pernah melihat seseorang yang kesohor sebagai seorang wali Allah berjalan menuju masjid; orang itu meludah ke arah kiblat. Melihat hal itu beliau berkata, “Seandainya anda melihat seseorang memiliki keramat sampai bisa terbang di udara, anda jangan tertipu, buktikan bagaimana orang itu dalam melaksanakan syariat Allah.”(Hikam Ibnu Athta’illah, Syarah Syekh Jarruq, Asy-sya’ab, Mishr, hal. 34). (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved