NEWSVIDEO

Sekolah Ini Terpaksa Memakai Jasa Guru Umum Untuk Mengajar ABK, Ini Sebabnya

Satu di antara 16 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang mengikuti program inklusif, M Nasir tampak masih terbata-terbata

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Guru pendamping di SMPN 1 Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Sugiono tampak telaten mengajar pelajaran Baca Tulis Alquran kepada anak didiknya yang mengikuti program inklusif di sekolah itu.

Satu di antara 16 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang mengikuti program inklusif, M Nasir tampak masih terbata-terbata dalam membaca di kelas tersebut.

Meski telah duduk dibangku SMP, namun M Nasir masih belum sepenuhnya bisa membaca menulis. Nasir tergolong ABK dengan kriteria Sulit belajar, Sugiono pun tampak sabar mendampingi dan mengajari M Nasir.

"Memang harus dibimbing. Kami guru pendamping juga harus benar-benar sabar membimbingnya. Selain itu, juga harus rajin-rajin memberikan motivasi untuk tetap sekolah. Karena, kondisinya itu membuatnya merasa sulit mengikuti pelajaran," katanya.

Di sekolah itu, total ada 16 ABK yang mengikuti progam Inklusif. Kriterianya ada hiferaktif, tuna daksa dan yang terbanyak lambat belajar dan sulit belajar.

Seluruh siswa program inklusif tersebut, dibimbing oleh empat orang guru pembimbing. Dia dan tiga orang guru lainnya bukanlah guru dengan latar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB). Mereka guru umum yang dilatih singkat untuk menangani anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah yang ditetapkan program inklusif.

"Seharusnya ABK di satu sekolah ditangani oleh guru yang memang berlatar belakang PLB. Karena, guru yang berasal dari PLB mempelajari bagaimana menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Saat ini, karena tidak ada guru dengan latar belakang PLB kita terpaksa yang mengisinya," katanya, Kamis (8/2/2018).

Ketua Forum Pendidikan Inklusif Kabupaten Banjar Isnu Wahyono MPd mengatakan, di Kabupaten Banjar terdapat 325 sekolah yang menyelenggarakan program inklusif.

Total anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif se Kabupaten Banjar ada sebanyak 945 orang siswa. "Mereka ini tersebar di 325 sekolah di Kabupaten Banjar,"terang Isnu.

Isnu mengakui, untuk saat ini program inklusif di sebagian besar sekolah penyelenggara inklusif masih terkendala oleh ketersediaan guru dengan latar belakang Sarjana Pendidikan Luar Biasa (PLB). (Banjarmasinpost.co.id/Hari Widodo)

Penulis: Hari Widodo
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help