ASN, Zakat dan Konsumerisme

MENTERI Agama, Lukman Hakim Saifuddin, minggu lalu menegaskan bahwa tidak akan ada pemaksaan dalam penarikan zakat

ASN, Zakat dan Konsumerisme
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh Mujiburrahman

MENTERI Agama, Lukman Hakim Saifuddin, minggu lalu menegaskan bahwa tidak akan ada pemaksaan dalam penarikan zakat profesi dari gaji Aparatur Sipil Negara (ASN). Penarikan itu hanya akan dilakukan berdasarkan persetujuan ASN yang bersangkutan. Dengan penegasan ini, maka jelaslah bahwa pemerintah hanya ingin melayani dan memfasilitasi, bukan memaksakan, pelaksanaan zakat.

Sebagai seorang ASN, saya melihat zakat sebagai cara bersyukur. Menjadi ASN adalah anugerah, lebih-lebih di zaman sekarang ketika jumlah sarjana sangat banyak, sementara pengangkatan ASN semakin sedikit dan sulit. ASN yang gajinya minimal setara 85 gram emas per tahun harus mengeluarkan zakat 2,5 persen. Ini adalah kewajiban sekaligus ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan Allah.

Namun harus diakui, bersyukur di era ekonomi pasar yang amat konsumtif saat ini tidaklah mudah. Pada masa Orde Baru, gaji ASN yang disebut Pegawai Negeri Sipil (PNS) tergolong pas-pasan. Karena itu, harap maklum jika PNS kala itu sering mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Ini pula yang menyebabkan maraknya pungutan liar dan korupsi di lembaga-lembaga pemeritahan.

Setelah Orde Baru tumbang, Presiden Abdurrahman Wahid menaikkan gaji ASN berlipat-lipat. Sejak itu, perlahan-lahan kesejahteraan ASN meningkat. Kini, selain gaji pokok, ada tunjangan fungsional, tunjangan profesi, tunjangan jabatan struktural hingga tunjangan kehormatan. Para pegawai administrasi mendapatkan tunjangan kinerja. Ada lagi tunjangan daerah, remunerasi, dan seterusnya.

Jika orang bersyukur dengan gaji yang diperoleh itu dan menggunakannya sesuai kebutuhan, setiap ASN tentu dapat hidup sejahtera bahkan membantu orang lain melalui zakat, infaq dan sedekah. Namun, seperti naik pohon, makin tinggi naik ke atas, makin banyak yang dilihat. Semakin tinggi gaji, semakin banyak pula keinginan (yang disangka sebagai kebutuhan). Akibatnya, gaji selalu terasa kurang!

Demikianlah, muncul istilah di kalangan ASN bahwa SK sebaiknya ‘disekolahkan’ di bank. Maksudnya, dijadikan jaminan untuk berhutang. Orang bank menghaluskan hutang itu dengan istilah ‘pembiayaan’. Bagi bank, menghutangi ASN lebih menguntungkan karena tiap bulan bisa ditarik dari gajinya. Bagi ASN, itulah cara mudah mendapatkan uang, meski harus membayar hutang itu dengan bunga yang lumayan.

Tak ada yang salah dengan hutang, jika berdasarkan kebutuhan dan sesuai kemampuan membayarnya. Sayang, nafsu manusia tidak mudah dikendalikan. Kadangkala ada ASN yang tak sabar ingin memiliki ini dan itu, atau mencoba berbisnis. Dia berspekulasi dengan menggadaikan seluruh gajinya. Ketika bisnis itu gagal, dia bingung. Gali lobang, tutup lobang. Pribadinya pun menjadi sensitif dan mudah marah.

Selain itu, meskipun gaji sudah dinaikkan, mentalitas PNS era Orde Baru masih belum banyak berubah di kalangan ASN sekarang. Bekerja dengan disiplin dan penuh tanggungjawab masih belum merata di kalangan ASN. Ada ASN yang malas-malasan bahkan datang hanya untuk finger print kemudian hilang. Ada pula ASN yang suka menyerahkan beban kerjanya kepada para honorer yang tak berdaya menolak.

Lebih buruk lagi, sebagian ASN bukan hanya malas bekerja tetapi juga rajin mencari celah-celah uang dari kegiatan-kegiatan di kantor. Kadangkala, dia berani menerobos peraturan dan hukum sehingga terjadilah korupsi. Gayung pun bersambut jika pimpinannya juga bermental demikian. Apalagi jika si pimpinan telah mengeluarkan modal besar untuk menduduki jabatannya. Mereka pun bersekongkol.

Saya kembali teringat zakat ASN. Menurut ketentuan BAZNAS, zakat hanya wajib bagi ASN yang gajinya minimal mencapai Rp 5,2 juta perbulan. Jika gajinya di bawah itu, apalagi yang terjerat banyak hutang, maka tidak wajib berzakat. Karena itu, agar bisa berzakat, ASN tidak hanya harus bekerja profesional, tetapi juga penuh syukur atas gaji yang diterimanya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help