Berita Tanahlaut

Bupati Cecar Manajemen RSUD Hadji Boejasin Soal Layanan Bayi Prematur Asal Desa Batakan

Terkait tanggapan warganet di media sosial tentang bayi prematur yang terpaksa diterangibdua lampu pijar ukuran 5 watt,

Bupati Cecar Manajemen RSUD Hadji Boejasin Soal Layanan Bayi Prematur Asal Desa Batakan
via BANJARMASINPOST.co.id/mukhtar wahid
(Foto: Kiriman Warga Desa Batakan) Bayi prematur di Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut, ini terpaksa dirawat dengan menggunakan dua bola lampu setelah disarankan dokter di RSUD Boejasin Pelaihari untuk dirawat jalan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Terkait tanggapan warganet di media sosial tentang bayi prematur yang terpaksa diterangibdua lampu pijar ukuran 5 watt, setelah dirujuk kemudian balik kanan, karena disarankan harus menjalani rawat jalan di Poli Anak RSUD Hadji Boejasin.

Kasus itu langsung direspon Bupati Tanahlaut, Bambang Alamsyah. Orang nomor satu di Kabupaten Tanahlaut itu, mempertanyakan tindakan manajemen RSUD Hadji Boejasin Pelaihari.

"Saya mempertanyakan tindakan manajemen RSUD Hadji Boejasin terkait pelayanan terhadap bayi," katanya usai melaksanakan sujud syukur dan salat hajat di Masjdi Agung Syuhada, Pelaihari, Selasa (13/2/2018).

Baca: Kasihan, Disuruh Dokter RS Boejasin Rawat Jalan, Bayi Prematur Ini Terpaksa Tidur Pakai 2 Bola Lampu

Baca: Jadwal Siaran Langsung Liga Champion Malam Ini di SCTV : Juventus vs Tottenham, Ancaman Kane!

Baca: Zaskia Gotik Tepis Soal Tarif Ratusan Juta Raja Tambang H Ciut, Rina Gunawan Ungkapkan Ini

Menurut Bambang Alamsyah, keberadaan rumah sakit yang baru dibangun di Kelurahan Saranghalang adalah dalam kaitan memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal kepada masyarakat Tanahlaut, termasuk yang berada di pelosok perdesaan.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Hadji Boejasin, dr Samsul Bahri mengatakan bahwa kronologis pasien bayi Ny. S dari desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat RSUD Hadji Boejasin pada 7 Pebruari 2018 jam 20.50 Wita.

Pasien dibawa oleh ibu kandungnya didampingi asisten bidan yang merujuk menggunakan ambulan milik desa Batakan. Bayi dibawa oleh ibu karena sempat biru setelah menyusu ASI.

"Hasil pemeriksaan dokter jaga IGD, tanda-tanda vital (nadi, frekuensi nafas, saturasi oksigen dan suhu) dalam batas normal. Dilakukan rangsang sentuhan pada kulit, bayi menangis kuat dan tidak biru," kata Samsul Bahri.

Halaman
12
Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help