BanjarmasinPost/

Berita Tanahbumbu

Pembangunan Lapas Tanbu Menimbulkan Persoalan, Upah Penyuplai Belum Dibayar

Pembangunan Lembaga pemasyarakatan dibawah naungan Kanwil Kemenkumham Kalimantan Selatan sepertinya tidak berjalan dengan mulus.

Pembangunan Lapas Tanbu Menimbulkan Persoalan, Upah Penyuplai Belum Dibayar
Banjarmasinpost.co.id/Man Hidayat
Pembangunan Lapas Tanbu Menimbulkan Persoalan, Upah Penyuplai Belum Dibayar 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Pembangunan Lembaga pemasyarakatan dibawah naungan Kanwil Kemenkumham Kalimantan Selatan sepertinya tidak berjalan dengan mulus.

Pasalnya, hingga kini progres pembangunan oleh PT Bima Sakti Rahayu itu baru sekitar 50 persen diwaktu perpanjangan ini.

Pembangunan ini memang disanggupi kontraktor untuk diselesaikan menggunakan dana perusahaannya yang disetujui Kemenkumham Kalsel.

Pengerjaan bangunan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Kabupaten Tanahbumbu yang bertempat di Desa Saring Sungai Bubu Kecamatan Kusan Hilir tersebut masih jauh dari kata selesai. Beberapa persoalan pun muncul seperti gaji pekerja sering terlambat, upah penyuplai air dan kayu galam dan baloknya juga masih belum dibayar full.

Baca: Jadwal Siaran Langsung Indosiar Leg 2 Semifinal Piala Presiden Malam Ini Bali United vs Sriwijaya FC

Sampai saat ini upah penyuplai itu belum dibayar semua. Misalnya saja Saripudin yang menjadi penyuplai kayu galam, balok dan bambu tersebut hingga kini belum menerima bayaran full.

Bahkan, sejak awal tahun ada perjanjian dibayar per 15 hari, namun kenyataannya tidak sesuai bahkan tidak ada kejelasan.

"Seharusnya totalnya Rp 110 juta dan dibayar baru sekitar Rp 20,8 juta, sisanya sekitar Rp 99 juta, terakhir dibayar sekitar tahun baru tadi sejumlah Rp 5,8 juta.

Janji janji dibayar ternyata belum juga dibayar sampai hari ini," kata Saripuddn saat ditemui dilokasi pembangunan Lapas, Rabu (14/2/2018).

Baca: Link Live Streaming RCTI Piala AFC 2018 Johor Darul Takzim vs Persija Jakarta Malam Ini

Serupa dengan Saripudin, Surianto yang tugasnya sebagai penyuplai air bersih dan air minum juga belum dibayar full tapi terus menyuplai air bersih tersebut untuk para pekerja.

"Saya mulai menyuplai tanggal 5 Desember 2017 lalu, tapi dari Januari sampai februari ini belum dibayar. Mereka terus berbelit-belit," katanya.

Dikatakannya, seharusnya hingga saat ini dibayar Rp 17 juta tapi baru dibayar sekitar 7,5 juta saja.

"Pernah saya setop menyuplai tapi pekerja pada ngamuk karena tidak bisa mandi dan segalam macamnya sebab itu sebagai warga setempat dirinya tetap menghargai dan menyuplai air," katanya. (Banjarmasinpost.co.id/Man hidayat)

Penulis: Man Hidayat
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help