Berita Tanahlaut

Kisah 10 ABK Tugboat Selamat dari Maut Perairan Jalur Tengkorak, Mengapung Bergandengan Tangan

Itu karena warga Desa Batakan yang menolong dan memberi makan korban tenggelam kapal tagboat penarik kapal tongkang

Kisah 10 ABK Tugboat Selamat dari Maut Perairan Jalur Tengkorak, Mengapung Bergandengan Tangan
Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid
Sepuluh ABK yang selamat dari kapal tugboat tenggelam menjemur diri dan dokumen identitas kependudukan yang basah usai melompat ke dalam air di pesisir pantai Tanjung Silat, Kamis (15/2/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Siti Fatimah dan suaminya Muhlisin bersama delapan warga RT 16 Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut yang menolong sepuluh ABK tugboat Blue Fish yang tenggelam, Rabu (14/2/2018) malam.

Itu karena warga Desa Batakan yang menolong dan memberi makan korban tenggelam kapal tagboat penarik kapal tongkang bermuatan batu bara dari perairan Sungaidanau, Kabupaten Tanahlaut.

"Saya melihat mereka naik ke darat dalam kondisi gemetar dan seperti kelaparan. Bekal kami memancing ikan kami berikan dan kami antar ke Pantai Batakan lewat pesisir," katanya bercerita, Kamis (15/2/2018) malam.

Baca: Gong Xi Fa Cai 2018 - Ucapan Doa Tahun Baru Imlek 2018, Bahasa Mandarin, Indonesia dan Inggris

Sekitar pukul 07.30 Wita, lima ABK terlihat dari pesisir di dekat Mercusuar di pesisir Tanjung Silat atau sekitar 20 kilometer dari obyek wisata Pantai Batakan.

Dekat mercusuar atau Tanjung Silat itu spot memancing ikan air bagi warga Desa Batakan.

Setiap pagi warga melintas melalui pesisir pantai Batakan karena air surut.

Kalau air pasang, Terpaksa melintas belantara hutan yang masuk dalam kawasan margasatwa yang dikelola BKSD Kalsel.

Siti Fatimah mengaku bersama suaminya tidak aneh menemukan orang yang terdampar di pesisir pantai Tanjung Silat.

Itu karena belum lama ini, sesosok mayat dalam kondisi tak utuh juga terdampar di pesisir Tanjung Silat.

Baca: Jadwal Siaran Langsung Liga Spanyol di SCTV Pekan 24 - Spirit Real Madrid dari Liga Champion

Bagaimana kesepuluh ABK itu selamat dari maut, Siti Fatimah mendengar dari penuturan satu korban yang bernama Saleh asal Sulawesi Selatan, mengaku bergandengan tangan sambil mengapung.

"Saat matahari muncul mereka berpisah masing-masing menuju pesisir. Saat malam itu mereka berpegangan tangan sambil melingkar," katanya.

Muhlisin, suami Siti Fatimah masih berupaya mencari dokumen ijasah dan surat milik ABK yang larut saat berupaya mengapung di perairan Tanjung Silat yang rawan dan dikenal jalur perairan tengkorak. (Banjarmasinpost.co.id /Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help