BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Fikrah

Pengaruh Media Sosial

Tercatat sebanyak 90,30 persen berita bohong, ada sebanyak 21,60 persen informasi bersifat menghasut, serta 59 persen informasi tidak akurat

Pengaruh Media Sosial
dok BPost
KH Husin Naparin

Oleh: KH HUSIN NAPARIN
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Kamis, 8 Februari 2018 penulis harus memberikan materi tentang Sosial Media pada Seminar Nasional, Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Indonesia (FKMTHI) Kalsel, UIN Antasari Banjarmasin. Namun urung, hari itu pukul 2 dinihari penulis diserang sesak nafas, sehingga harus opname di RS Islam Banjarmasin.

Berita sakitnya penulis merebak cepat lewat media sosial. Banyaklah yang membezuk penulis, antara lain guru penulis, KH Taberani Baseri, Wali Kota Banjarmasin, H Ibnu Sina dan Prof Yusril Ihza Mahendra yang kebetulan berada di Banjarmasin. Demikian media sosial sangat mempengaruhi kondisi kehidupan kita masa kini, sesuatu yang kecil bisa menjadi besar.

Remaja dulu bernyanyi, “Kuambil buluh sebatang, kupotong sama panjang, kuraut dan kutimbang dengan benang, kujadikan layang-layang, bermain berlari, bermain layang-layang, bermain ku bawa ke tanah lapang, hati gembira dan riang.”

Remaja now, “Kuambil tongsis sebatang, kutarik panjang-panjang, kuangkat dan ku foto ulang-ulang, foto selfie sama ayank.” menambahkan, bermain berlari di siring dan di jembatan, cubit-cubitan, tak tahu halal dan haram.

Tahun 2017, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 51 persen (sekitar 132,7 juta orang) dan akan terus meningkat; 106 juta di antaranya pengguna aktif, kebanyakan mereka adalah Generasi Milenial (rentang usia 20-34 tahun) yang lahir sebagai digital native, internet merupakan bagian integral dari kehidupan mereka.

Kebanyakan dari mereka mengakses Youtube (49 persen), Facebook (48 persen), lnstagram (39 persen), dan Twitter (38 persen). (Data Agensi Digital AS, We Are Social). Hal ini, tidak diikuti dengan pengetahuan dan kesadaran bermedia sosial yang bijak, sehingga dimanfaatkan oleh berbagai pihak sebagai wadah penyebaran konten negatif (hoax, ujaran kebencian, fake news. dan radikalisme).

Tercatat sebanyak 90,30 persen berita bohong, ada sebanyak 21,60 persen informasi bersifat menghasut, serta 59 persen informasi tidak akurat, hal ini membawa dampak pada cara berpikir masyarakat. Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik pada Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memblokir 6 ribu situs pada Januari-Juli 2017, namun menyapu total mustahil dilakukan, jika tidak disertai kasadaran setiap individu pengguna media sosial.

Kemkominfo menggandeng Kementarian Agama, Juli 2017, manandatangani MoU tentang Pembangunan Karakter Bangsa melalui Penyelenggaraan Program Bidang Komunikasi, Informatika dan Agama; dengan bantuan para penyuluh agama, baik penyuluh agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha. (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo, Jakarta 12 September 2017)

MUI Pusat dalam fatwanya nomor 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial, diharamkan:

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help