Idealisme Masih Ada

Jumat, 16 Februari 2018. Udara pagi terasa sejuk. Saya bersama istri berolahraga ringan, berjalan kaki melewati Jalan Veteran, Banjarmasin.

Idealisme Masih Ada
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Jumat, 16 Februari 2018. Udara pagi terasa sejuk. Saya bersama istri berolahraga ringan, berjalan kaki melewati Jalan Veteran, Banjarmasin. Tiba-tiba sebuah mobil kecil warna putih singgah di pangkalan ojek berjarak sekitar 10 meter dari kami. Kaca mobil terbuka. Kemudian orang-orang di pangkalan ojek itu, termasuk para tukang becak yang mendekat, masing-masing diberi sebungkus nasi.

Kami terperangah menyaksikan kejadian itu. Tak ada bendera partai atau organisasi apapun di mobil itu. Tak ada pula wartawan yang meliput. Mobil kecil itu terus melaju, dan berhenti sebentar ketika melihat orang-orang yang layak diberi. Sejurus kemudian, mobil itu menghilang di tikungan Klenteng Suci Nurani, meneruskan perjalanan, menelusuri Kota Banjarmasin, mencari mereka yang layak disantuni.

Bagi kalangan menengah dan atas, sebungkus nasi tentu tidak banyak nilainya. Tetapi bagi orang kecil yang belum tentu setiap pagi bisa menikmati sarapan, kiranya sangat bernilai. Saya menyaksikan sendiri betapa cerah wajah-wajah penerima nasi bungkus itu. Mungkin itulah pula yang terbayang dalam benak si pemberi. Dia memberi setulus hati. Dia bahagia dengan membahagiakan orang lain.

Kejadian itu membuat saya terhibur. Ternyata, di masyarakat kita masih ada orang yang mau berbagi dengan ikhlas tanpa pamer dan berita. Ternyata, di balik gemerlap pesta elite pengusaha dan penguasa bersama para artis ibu kota, masih ada orang yang berpikir tentang kemaslahatan orang lain. Ternyata, di balik budaya kunjungan kerja dan studi banding yang sia-sia, masih ada orang yang peduli pada sesama.

Jumat malam tanggal yang sama, saya membaca berita di media sosial tentang seorang aktivis-politisi yang diserang orang tak dikenal di Kotabaru. Korban menderita luka di kepala sepanjang 16 sentimeter. Usai dioperasi, kondisi korban membaik. Media menyebut namanya Usman Pahero. Saya mengenalnya dengan nama Usman Dependi. Dia adalah alumni Fakultas Tarbyah IAIN Antasari Angkatan 1989.

Menurut berita, Usman dibacok saat pergi ke masjid naik sepeda motor matik bersama putrinya untuk Salat Subuh berjemaah di Masjid Assalam. Ada dugaan, Usman memang sudah diincar oleh orang tak dikenal yang sempat dilihat warga. Usman rupanya terlibat dalam berbagai aksi terkait nelayan, dugaan pemalsuan ijazah seorang pejabat hingga demonstrasi penolakan penambangan batubara di Pulau Laut.

Sebelum pelaku tertangkap dan motif sebenarnya terungkap, kita hanya dapat menduga-duga, apakah serangan tersebut ada kaitannya dengan aktivitas Usman selama ini ataukah tidak. Yang pasti, kasus ini sedikit banyak menimbulkan rasa takut dan khawatir, khususnya bagi keluarga korban. Lingkungan kita seolah tidak aman lagi. Serangan dan teror laksana hantu yang bisa menyerang tiba-tiba dan kapan saja.

Apalagi, sejauh pengetahuan keluarganya, Usman tidak pernah memiliki masalah pribadi dengan orang lain, sehingga kasus ini diduga memang terkait dengan aktivitas sosial-politiknya. Lantas, apakah kasus ini membuat keluarganya surut ke belakang? Tampaknya tidak. Ketika berbincang dengan sang istri, saya mendapatkan kesan, meski tahu risikonya, dia akan tetap teguh mendukung perjuangan suaminya.

Sekali lagi saya termenung. Terlepas dari ada tidaknya hubungan antara aktivitas sosial politik Usman dan serangan subuh itu, sikapnya dan keluarganya untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur yang diperjuangkan adalah luar biasa. Sudah maklum, di era politik oligarkis ini, para penjilat bertebaran, dan banyak dari kaum terpelajar yang tanpa malu melacurkan diri pada pemegang kekuasaan dan uang.

Alhasil, kita tidak boleh kehilangan harapan. Dunia ini memang bukan surga, tetapi juga bukan neraka. Malam yang gelap gulita, betapapun panjangnya, akan berakhir dengan terbitnya fajar. Meski masyarakat umumnya sudah dilanda pragmatisme akut, idealisme takkan pernah sirna. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved