Menyibak Dunia Hitam Kakek Lamsi

Ini Pendapat Pakar Mengenai Pencuri yang Tak Kenal Kata Jera Seperti Kakek Lamsi Ini

Sukma Noor Akbar, Koordinator Unit Konsultasi dan Pelayanan Psikologi FK Universitas Lambung Mangkurat mengatakan ini

Ini Pendapat Pakar Mengenai Pencuri yang Tak Kenal Kata Jera Seperti Kakek Lamsi Ini
nia kurniawan
Lamsi saat di Polsek Banjarbaru Barat 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Usia sudah tua, tak ada kata jera keluar masuk penjara. Kasus seperti Kakek Lamsi alias Ilam bukan sebenarnya tak bisa dianggap sepele. Harus ada penanganan khusus.

Sukma Noor Akbar, Koordinator Unit Konsultasi dan Pelayanan Psikologi FK Universitas Lambung Mangkurat mengatakan kejahatan merupakan bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan, merugikan masyarakat, bersifat asosial, bertentangan dengan hukum dan undang-undang pidana.

Baca: Nyaris Dibakar Warga, Kakek Lamsi: Seumur-umur Jadi Maling, Baru Kali Ini Dipukul Perempuan

Baca: Tak Jera-jera, Usia Setengah Abad, Kakek Ini Masih Saja di Dunia Hitam, Terkhir Berlumuran Darah

Dia mengatakan salah satu bentuk kejahatan adalah pencurian dan ketika individu tersebut melakukan pencurian yang berulang hingga keluar masuk penjara maka bisa disebut dengan residivis yaitu kejahatan yang dilakukan karena kebiasaan dan dilakukan berulang-ulang hingga keluar masuk penjara.

"Penyebab terjadinya hal tersebut bisa secara internal maupun eksternal, faktor internal seperti kepribadian dan intelegensi, sedang faktor eksternal bisa disebabkan lingkungan keluarga, lingkungan sekitar, faktor ekonomi/pengangguran, faktor pendidikan dan lemahnya pengawasan masyarakat," katanya.

Baca: Staf Admin Universitas Palangkaraya Gantung Diri, Ternyata Dia Sosok Ayah yang Akrab dengan Putrinya

Baca: Terungkap! Saat Perawat Cantik Ini Berada Dalam Taksi Online Isinya Penjahat, Hal Mengerikan Terjadi

Menurutnya, perlu kajian secara langsung dan mendalam dalam menentuan criminal profilling atau motif kepribadian dari pelaku pencurian. Namun ketika kejahatan di lakukan berulang-ulang kemungkinan bisa saja pelaku mengalami gangguan antisosial.

"Ciri gangguan antisosial yang paling menonjol adalah kurangnya menghargai norma sosial, kurang memiliki belas kasihan, kurang merasa bersalah, dan sering melakukan aktivitas melanggar hukum. Kepribadian antisosial yang diperparah dengan faktor ekonomi dan rendahnya pendidikan/intelegensi akan mengakibatkan pelaku menjadi tidak mampu mengendalikan informasi-informasi dengan tepat dikognitifnya," kata dia.

Tentunya untuk mengantisipasi ketika ada pelaku dengan perilaku antisosial harus melibatkan ahli seperti psikiater ataupun psikolog klinis dalam memberikan konseling atau terapis psikologis lainnya. Disamping itu adanya dukungan keluarga, menghindari label stigma sosial mengenai narapidana oleh masyarakat, persiapan mengembangkan keterampilan narapidana saat mau keluar dan menghindari pergaulan lingkungan yang negatif akan meminimalisir kejadian berulang yang dilakukan oleh residivis. (Kur)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved