Mahalnya Elpiji Bersubsidi

Rupanya perempuan ini kesal karena tak mendapatkan elpiji di sebuah pangkalan daerah tersebut.

Mahalnya Elpiji Bersubsidi
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

UNIK sekali apa yang dilakukan Sarbiah dan Arsiah. Mereka mendatangi Mapolsek Banjarmasin Utara, Rabu (21/2) pagi, sambil membawa tabung elpiji ukuran tiga kilogram yang kosong. Padahal kita tahu, bukan di sana tempat membeli gas untuk memasak. Membeli elpiji tentu saja di warung, pangkalan, agen atau stasiun pengisian bahan bakar umum.

Rupanya perempuan ini kesal karena tak mendapatkan elpiji di sebuah pangkalan daerah tersebut. Sedemikian kesalnya hingga dia mendatangi kantor polisi untuk mengadu.

Beberapa waktu terakhir ini, elpiji melon dirasakan langka oleh masyarakat Banjarmasin. Harga yang tadinya di bawah Rp 20 ribu, melambung menjadi Rp 40 ribu bahkan Rp 50 ribu. Yakinlah jika di Banjarmasin elpiji tersebut langka dan mahal, apalagi di kabupaten dan daerah pelosok.

Dengan harga tersebut berarti harga elpiji bersubsidi per kilogramnya lebih mahal dibandingkan elpiji nonsubsidi 12 kilogram. Itu karena harga elpiji tabung 12 kilogram sekitar Rp 150 ribu.

Kendati demikian masyarakat kecil tetap membeli elpiji tabung melon karena tak punya pilihan lain. Pertama mereka tidak punya tabung 12 kilogram. Kemudian mereka juga tidak punya uang sebanyak Rp 150 ribu.

Masyarakat pun melayangkan tudingan terjadinya kelangkaan akibat perbuatan pangkalan hingga Pertamina. Sumpah serapah ditumpahkan di media sosial. Banjarmasin Post pun kebanjiran keluhan pembaca.

Dari empat surat pembaca yang diterbitkan pada edisi Kamis 22 Februari 2018, tiga di antaranya mengeluhkan masalah elpiji tiga kilogram. Belum lagi di akun facebook harian ini.

Tak rela dituding secara langsung oleh konsumen, pemilik pangkalan pun mengalihkannya ke Pertamina. Pasokan dari Pertamina dikatakan berkurang.

Pertamina Wilayah Kalsel mengakui kelangkaan tersebut karena adanya gangguan suplai. Kapal pengangkut elpiji kembali terhalang cuaca hingga ada beberapa tongkang yang terbalik di perairan Tabonio.

Pertanyaan yang muncul, kenapa ini kerap terjadi. Mengapa di Jawa tidak terjadi.

Kita tak bisa selamanya menyalahkan cuaca yang telah diatur oleh Tuhan. Penjual es tak bisa menyalahkan hujan jika dagangannya tak laku. Sudah seharusnya penjual es mengamati cuaca sebelum membuat es agar tidak rugi. Apalagi sekelas Pertamina.

Seharusnya Pertamina menerapkan manajemen stok yang baik. Soalnya jika tidak dampaknya akan luar biasa yakni kelangkaan dan meroketnya harga elpiji.

Agen dan pangkalan, yang terikat perjanjian tidak menaikkan harga elpiji bersubsidi, pun bisa tergoda menambah keuntungan saat banyak orang datang mencarinya. Ini namanya kesempatan dalam kesempitan.

Pertamina, pemerintah dan polisi di daerah hanyalah tinggal mengawasi agar jangan sampai elpiji bersubsidi jatuh kepada orang yang tidak berhak.

Sekarang Pertamina harus segera memasok elpiji tiga kilogram bagaimanapun caranya. Selain itu bersama pemerintah daerah dan kepolisian menjatuhkan sanksi kepada agen dan pangkalan yang bermain. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved