BFokus Banua Anam

Penyetrum Ikan Tak Segan Melakukan Perbuatan Ini Meski Nyawa Taruhannya

Sebelum ada polisi perairan (polair) yang ditugaskan Polda Kalsel, penyetruman di wilayah tersebut sulit dikendalikan.

Penyetrum Ikan Tak Segan Melakukan Perbuatan Ini Meski Nyawa Taruhannya
BPost Cetak
bpost cetak

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Sebelum ada polisi perairan (polair) yang ditugaskan Polda Kalsel, penyetruman di wilayah tersebut sulit dikendalikan.

Apalagi mereka berani melawan aparat kepolisian.

Beberapa kali pernah terjadi insiden kekerasan yang melibatkan penyetrum lawan warga dan polisi.

Saat beraksi, mereka berkelompok, menggunakan senjata tajam, bahkan pernah ditemukan senjata api rakitan.

Akibatnya, kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) tak berani menghentikan.

Baca: Tersingkir Liga Dangdut, Novi Bertekad Mengadu Nasib di Jakarta, Doain Aja Ya!

Baca: Selingkuh, Istri Marah saat Suami Pingsan Alat Vitalnya Dipotong Kemudian Dibuang ke Toilet

Baca: Dua Warga Indonesia Ini Nekat Melayat ke India, Ternyata Ada Hubungan Khusus dengan Sridevi

Selain itu, penyetrum juga tega merusak alat tangkap yang dipasang nelayan lain seperti lukah, atau tempirai yang legal digunakan.

Mengenai solusi, pada 2018 ini Pemkab HST berdasar hasil kajian akademis Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, tetap menjalankan program budi daya ikan, dengan sistem pembentukan kampung papuyu dan toman, kampung haruan dengan sistem pembinaan, serta pengadaan alat tangkap ikan tradisional.

Sedangkan solusi jangka panjang, pemkab berupaya mengatasi masalah rumput liar, serta membangun sistem pengairan dengan rencana membangun polder mini, seperti di Alabio, HSU.

Wiwarni mengakui, dampak maraknya illegal fishing beberapa tahun lalu, membuat produksi ikan di HST berkurang.

Saat ini makin sulit mencari ikan dan nelayan tradisional tersisih.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help