Berita HST

Jalan Kaki 9 Km Turun Naik Gunung, Siswa SDN 3 Haruyan Dayak Tak Pernah Gunakan Seragam Sekolah

Semangat anak-anak untuk tetap bersekolah dengan segala kesulitan yang mereka hadapi tersebut harus didukung semua pihak

Jalan Kaki 9 Km Turun Naik Gunung, Siswa SDN 3 Haruyan Dayak Tak Pernah Gunakan Seragam Sekolah
(FB/Wardi Milano di Group Barabai Balakar Online)
Anak-anak Desa Haruyan Dayak yang tinggal di berbagai lingkungan Balai Adat, saat ke sekolah mereka di SDN 3 Haruyan Dayak,Balai Aruhuyan 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI -  Dunia pendidikan di desa terpencil, belum mengalami perubahan baik dari sisi fasilitas maupun sumber daya manusia. SDN 3 di Balai Aruhuyan, Desa Haruyan Dayak, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, adalah salah satu sekolah yang menjadi harapan bagi anak-anak yang bermukim di desa terpencil pegunungan meratus.

Namun, letak sekolah yang sulit mereka jangkau karena medannya yang mendaki dan menuruni bukit. Ditambah lagi kondisi jalan yang becek jika turun hujan, membuat anak-anak tak bisa menggunakan seragam jika ke sekolah.

“Bagaimana mau berseragam dan bersepatu. Mereka ke sekolah berjalan kaki. Kalau yang dari Balai Macatur, jalan kaki sampai sembilan kilometer. Melewati jalan tanah merah berbatu, dan beberapa anak sungai. Berbaju biasapun pakaian mereka kotor. Apalagi berseragam,”kata Kades Haruyan Dayak, Suhadi Anang.

Baca: Soal Distribusi Gas Elpiji, Gubernur Kalsel Minta KSOP Banjamasin Utamakan Kepentingan Rakyat

Meski demikian, jelas Kades, semangat anak-anak untuk tetap bersekolah dengan segala kesulitan yang mereka hadapi tersebut harus didukung semua pihak. Dijelaskan, di SDN 3 Haruyan Dayak, hanya ada sekitar 50 siswa.

Mereka berasal dari balai (anak desa) terjauh, yaitu Kumuh, Macatur, Tamburasak, Impun, dan Aruhuyan. Palin, warga Tamburasak mengatakan, sebenarnya banyak anak-anak usia sekolah tak bersekolah, karena masalah jarak tadi.


Anak-anak Desa Haruyan Dayak yang tinggal di berbagai lingkungan Balai Adat, saat ke sekolah mereka di SDN 3 Haruyan Dayak,Balai Aruhuyan. (FB/ Wardi Milano di Group Barabai Balakar Online)

“Banyak orang tua yang khawatir melepas anaknya ke sekolah, khususnya yang masih usia kelas satu, karena mereka berangkat ke sekolah sejak subuh, pukul 04.30. Sampai ke sekolah pukul 07.00 sampai pukul 07.30. Tapi sampai ke sekolahpun gurunya belum datang, ”jelas Palin. Soal tidak teraturnya jam mengajar, dibenarkan Kades Haruyan Dayak Suhadi Anang.

Baca: Lagi Tunggu Anak, Ibu Rumah Tangga Warga HSS Tertimpa Pohon Kelapa, Begini Kondisinya

Menurut Suhadi, para guru PNS tak ada yang tinggal di sekitar sekolah. ‘Semuanya dari Barabai. Kecuali ada tiga guru honor dari Haruyan Dayak.  Guru rata-rata datang ke sekolah pukul 09.00 ke atas. APalagi jika hujan. Setelah itu, rata-rata pukul 12.00 sudah bubar,”jelas Suhadi.  Diapun menyatakan prihatin, karena jam pelajaran yang sering dikurangi tersebut.

“Jika belajar normal saja, nangkap pelajarannya lambat. Apalagi waktunya dikurangi,”katanya.  Suhadi Anang menyarankan, mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Kabupaten harus menempatkan tenaga pendidik yang bersedia tinggal di dekat lokasi sekolah. “Yang memungkinkan tingal dekat sekolah, warga desa setempat. Sebab, jika guru dari kota, sulit bagi mereka betah di desa yang sepi seperti di desa kami ini,”katanya.

Baca: Besok, Barito Putera Dijadwalkan Ujicoba Melawan PSMS Medan, Ini yang Jadi Sasaran Jacksen F Tiago


SDN 3 Haruyan Dayak,Balai Aruhuyan. (FB/Wardi Milano di Group Barabai Balakar Online)

Diapun meminta Pemkab HST mempertimbangkan mengangkat tiga guru honor, di sekolah itu. Apalagi, kata SUhadi, ketiganya kini berupaya menempuh pendidikan S1, bidang kependidikan agar bisa ikut bersaing menjadi guru PNS. Terkait masalah tersebut, Kepala Dinas Pendidikan HST H Riduan, dikonfirmasi via telepon genggamnya, beberapa kali, tak aktif.

Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved