SAKIT

Melalui sakit, Allah ingin menganugerahkan sejumlah kebaikan kepada si sakit itu sendiri, antara lain dosa-dosanya diampunkan.

SAKIT
dok BPost
KH Husin Naparin

KH HUSIN NAPARIN
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Tidak seorang pun di antara kita yang ingin sakit. Terlepas dari apa penyebab sakit, Allah melalui Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa Dialah menciptakan manusia dan menunjukinya, Dialah yang mendatangkan penyakit dan menyembuhkannya, dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan (mengembalikan kepadanya).

Melalui sakit, Allah ingin menganugerahkan sejumlah kebaikan kepada si sakit itu sendiri, antara lain dosa-dosanya diampunkan. Nabi SAW bersabda, barang siapa yang Allah hendak memberikan kepadanya maka orang itu ditimpakan musibah, antara lain sakit. Sampai-sampai duri yang menusuk dagingnya, itu adalah ampunan atas dosanya. Doa-doa orang sakit diijabah.

Memang, orang sakit tidak bisa beramal seperti ketika masih sehat, namun orang yang sakit tetap ditulis pahala ganjaran amalnya yang biasa ia lakukan seperti sewaktu ia sehat, bahkan jika ia bepergian namun demikian orang yang sakit harus sadar, jangan-jangan penyakitnya itu adalah sebagai sebab kematian baginya karena kematian harus ada sebab yang dibuat oleh Allah; oleh karenanya seiring yang sakit harus sabar, rida dan tabah serta selalu menjaga ketaatan dan ibadah kepada Allah sesuai kemampuannya.

Namun demikian, si sakit harus tetap optimis dan memohon kesembuhan kepada Allah. Lewat orang sakit Allah tidak saja ingin memberikan kebaikan kepada si sakit, tetapi juga kepada orang orang yang sehat. Bayangkan orang mengunjungi orang yang sakit berjalan menuju surga.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru: Anda orang baik, langkah Anda adalah langkah yang baik, dan Anda telah mendapatkan tempat di surga” (HR Tirmizi).

Pada riwayat yang lain, beliau juga bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat: “Wahai anak Adam, Aku sakit namun kamu tidak mau menjenguk-Ku. Sang hamba berkata, Wahai Tuhanku, bagaimana kau menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam? Dia berfirman, Tidakkah kamu tahu, bahwa hamba-Ku si fulan sakit, namun kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu, jika kamu menjenguknya niscaya kamu akan mendapati-Ku di sisinya” (HR Muslim).

Menjenguk orang sakit saja sudah diberi ganjaran sebagai jalan menuju surga. Kita tidak tahu bagaimana ganjaran orang yang merawat orang sakit, para dokter yang mendiagnosa penyakit dan menentukan obat, para perawat yang merawat memudahkan si sakit, para manajemen yang mengatur administrasi orang sakit agar mudah, para pembersih lantai yang memelihara kebersihan, orang yang memasak makanan dan menentukan menu makanan si sakit, yang berbelanja melengkapi segala macam makanan dan peralatan perobatan, bahkan para perawat yang membersihkan BAB dan kencing si sakit.

Kita tidak tahu bagaimana Allah mengganjarnya. Semua mereka bekerja sesuai posisi, jabatan dan keahlian masing-masing; itu semua adalah pemberian Allah, sehingga dengan itu mereka (orang-orang yang sehat) mendapat kebaikan; artinya orang-orang yang sehat mendapat kebaikan dari orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang sakit diuji Allah dengan sakit, agar orang-orang yang sehat mendapat banyak kebaikan.

Apakah lagi orang-orang yang meringankan beban si sakit berupa dana, semuanya tercatat di sisi Allah SWT berupa kebaikan. Aku pernah sakit, pada 1982, ketika bekerja sebagai staf Keduataan Besar RI di Jeddah. Sakitku karena kelelahan, kurang cairan di dalam ginjal sehingga ketika bekerja di tengah hari aku ambruk. Aku dibawa ke rumah sakit mewah di Jeddah, rumah sakit Bakhs, milik para pangeran. Tiga hari tiga malam aku dirawat, obat-obatan semua paten. Ketika mau keluar; diperhitungkan biaya pengobatanku diperkirakan 4.000 riyal, sedangkan gajiku sebulan hanya 1.250 riyal.

Istriku hanya tanda tangan, sudah ada fa’ilul khair yang menjamin semua biaya pengobatanku. Alangkah lapangnya dan gembiranya aku dan istriku. Allah berjanji memudahkan urusan orang-orang yang berbuat baik di dunia dengan kemudahan urusan baginya, tidak saja di dunia tetapi di akhirat. Selamatlah para pembuat kebajiakn (fa’ilul khair).

Ketika aku sakit kali ini, sudah dua kali masuk Rumah Sakit Islam Banjarmasin (RSIB), yang entah berapa biayanya; ternyata ada lagi fa’ilul khair yang telah menjamin biaya pengobatanku. Saat beberapa hari aku dirawat di kamar ICU, aku bersedih sekali karena ada seorang pasien terpaksa dibawa pulang ke rumah, padahal ia belum sembuh.

Apa pasal? Katanya tidak ada biaya. Di sisi lain, ada lagi seorang pasien di samping kiriku, baru saja orang itu masuk, kemudian beberapa saat ia meninggal dunia; padahal ia orang kaya, ternyata kekayaannya tidak bisa menyambung umurnya. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help