Home »

Kolom

» Tajuk

Mendukung Pariwisata Kalsel

Tentunya ini memprihatinkan, karena event pariwisata di 2018, bisa menjadi pintu masuk promosi Kalsel menunju tahun kunjungan wisata

Mendukung Pariwisata Kalsel
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

WILAYAH Kalimantan Selatan (Kalsel) sedang bersiap menggelar program visit Kalsel Year 2019.

Namun ironisnya, berdasar data Dinas Pariwisata Kalsel, dari 32 event pariwisata selama 2018 ini, ternyata hanya satu event wisata Kalsel yang masuk Kalender pariwisata nasional, yaitu event Festival Pasar Terapung, BPost (2/3/2018).

Tentunya ini memprihatinkan, karena event pariwisata di 2018, bisa menjadi pintu masuk promosi Kalsel menunju tahun kunjungan wisata. Bila hanya satu saja yang diakomodir pemerintah pusat, pemerintah Kalsel perlu tenaga ekstra lagi untuk memopulerkan objek-objek wisata unggulannya.

Hanya terakomodirnya Festival Pasar Terapung sebenarnya sudah bisa diprediksi. Sebelumnya Kalsel juga gagal memasukan objek wisata andalannya ke dalam daftar 18 wisata unggulan 2018 Indonesia. Padahal, destinasi wisata yang dimiliki Kalsel tidak kalah dengan daerah lain, seperti Wisata Alam Loksado dan Pasar Terapung.

Pasar Terapung yang menjadi ikon Kalsel kalah dengan Danau Toba, di Sumut, kemudian Batam, Belitung, Padang, dan Palembang di Sumatra. Kemudian Jakarta, Bandung, Borobudur di Yogyakarta, Solo, Jawa Timur dengan Bromo danTengger, serta Banyuwangi.

Kegagalan Kalsel harus menjadi pelajaran. Tentu ada yang ‘salah’ dengan cara promosi Kalsel, bila sejumlah objek wisata unggulan yang sudah dikenal hingga mancanegara justru tidak bisa menarik perhatian wisatawan, maupun pemerintah pusat.

Pasar Terapung umpamanya, sejak belasan tahun silam sebenarnya sudah dikenal seluruh masyakat Indonesia berkat sosok pedagang pasar terapung di Kuin, Banjarmasin Utara, yang mengacungkan jempolnya di sebuah stasiun TV swasta.

Tapi, apakah promosi tidak langsung tersebut efektif? Karena kenyataannya, tak sedikit yang wisatawan yang kecewa ketika datang ke pasar terapung melihat kondisi kebersihan dan makin langkanya pedagang yang berjualan di sungai.

Revitalisasi sudah dilakukan dengan memindahkan sebagian pedagang untuk berjualan di siring di waktu yang ditentukan. Tapi sudah adakah evaluasi terhadap objek wisata andalan Kalsel tersebut. Atau memang menggantungkan pada Pasar Terapung Lokbaintan untuk terus bertahan.

Dari kunjungan anggota Komisi X DPR RI, ada beberapa point yang dapat dicatat yaitu perlu adanya event andalan, dan konektifitas transportasi. Dalam hal transportasi memang yang masih menjadi sorotan yaitu belum selesainya pembangunan Bandara Syamsudin Noor untuk penerbangan internasional.

Bandara bisa merupakan salah satu hipotesa akan minimnya kunjungan wisata. Kini seiring progres pembangunan bandara, kewajiban Pemprov Kalsel membuat event wisata berskala besar. Nanti akan dibuktikan, celah apa saja yang jadi kelemahan, apakah faktor konektifitas, event atau minimnya promosi. Promosi bukan semata tanggung jawab pemerintah, tapi seluruh warganya dan tak lupa media. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help