Berita Tanahlaut

Peternak Sapi Tanahlaut Dimitna Waspadai Wabah Jembrana, Ini yang Dilakukan Jika Tertular

Hewan ternak jenis sapi khususnya sapi yang berasal dari Bali, sangat mungkin tertular penyakit jembrana.

Peternak Sapi Tanahlaut Dimitna Waspadai Wabah Jembrana, Ini yang Dilakukan Jika Tertular
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Penyuluh Pertanian Tanahlaut, Jamsari 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Kabupaten Tanahlaut terkenal sebagai penghasil daging hewan ternak jenis sapi. Populasi ternak sapinya mencapai puluhan ribu ekor.

Tak heran Pemerintah Kabupaten Tanahlaut membangun kawasan pasar hewan di Kelurahan Saranghalang, untuk melayani jasa transaksi jual beli maupun perdagang hewan ternak sapi di Kalselteng.

Hewan ternak jenis sapi khususnya sapi yang berasal dari Bali, sangat mungkin tertular penyakit jembrana. Sapi yang bertular wabah jembrana harus diberikan perlakuan khusus.

Baca: Antara Langit dan Bumi! Begini Perbedaan Hidup Roro Fitria dan Kakaknya, 9 Foto Ini Faktanya

Baca: Bunker Rahasia Ini Bakal Dihujani Bom Nuklir Rusia Jika Perang Nuklir Pecah, Amerika Tak Khawatir

Baca: Mengagumkan! Usia George Corones Jelang 100 Tahun, Tapi Dia Mampu Pecahkan Rekor Renang

Jamsari, penyuluh peternakan mengatakan saat ini belum ada ternak sapi yang terkena wabah penyakit jembrana. Meski demikian peternak harus tetap waspada.

Sebab, ungkap Jamsari, jika hewan ternak jenis sapi Bali tertular penyakit jembrana harus dikarantina dari jawabannya agar tak menular.

Saat ini, populasi terbesar ternak sapi termasuk jenis sapi Bali merata di setiap kecamatan. Terbesar sekitar 29 ribu ekor sebarannya ada di Kecamatan Takisung.

Baca: Jadwal Siaran Langsung Real Madrid vs Getafe Malam Ini di SCTV : Demi Liga Champions

"Itu setelah dilakukan program Siwab dan kontes anak sapi oleh Pemerintah Provinsi Kalsel, akhir 2017 lalu," katanya.

Menurut Jamsari, ciri sapi Bali yang terserang penyakit jembarana, demam tinggi, nafsu makan berkurang, bercak merah di kukit sapi, berkeringat darah dan mengeluarkan air liur.

"Jika ditemukan, segera di karantina di belakang kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan hewan Kabupaten Tanahlaut," katanya.

Mahyudi, peternak sapi di Desa Telaga, Kecamatan Pelaihari mengaku tidak memelihara sapi Bali. Itu karena delapan tahun yang lalu, di Desa Telaga, sekitar puluhan ekor sapi terserang Jembrana.

"Ada yang belum mati, terpaksa dijual murah. Tidak sempat diobati ternaknya mati. Dahulu itu tidak ada perhatian dari Pemerintah," katanya. (*)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved