Pilpres 2019

Posisi Gatot Nurmantyo Rentan Dimanfaatkan Kelompok Radikal, Faizal Assegaf Beberkan Faktanya

"Kalau Gatot bermimpi menjadi capres berbahaya. Itu pintu masuk ditunggangi kelompok radikal"

Posisi Gatot Nurmantyo Rentan Dimanfaatkan Kelompok Radikal, Faizal Assegaf Beberkan Faktanya
tribunnews.com
Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI. Gatot Nurmantyo, di acara serah terima jabatan (sertijab) sejumlah jabatan TNI AD, di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Senin (15/1/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Mantan Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo berpeluang maju di  Pilpres 2019. Kedekatan dengan tokoh-tokoh agama islam dan ormas islam dapat menjadi keuntungan.

Namun untuk Pilpres 2019, Aktivis Progress 98, Faizal Assegaf, menyarankan agar Gatot memilih maju sebagai calon wakil presiden. Sebab, apabila maju sebagai capres, maka akan rentan dimanfaatkan.

Baca: Hebat! Ternyata Pemain Barito Putera dan Martapura FC Ini Anak Kuliahan, Disini Kampusnya

"Kalau Gatot bermimpi menjadi capres berbahaya. Itu pintu masuk ditunggangi kelompok radikal. Memanfaatkan arena Pilpres," tutur Faisal, dalam diskusi bertema 2019, Jokowi Dengan Siapa Di Mata Aktivis?, Sabtu (3/3/2018).

Untuk cawapres, kata dia, Gatot berpeluang mendampingi Joko Widodo yang akan maju di Pilpres 2019. Gatot dinilai mempunyai sejumlah syarat melengkapi Jokowi.

Pendiri Presidium Alumni 212 itu melihat, Gatot berpotensi menjadi cawapres karena yang bersangkutan dikenal sebagai representasi dari TNI yang dianggap memiliki jiwa nasionalisme.

Baca: Jadwal Siaran Langsung, Man City Vs Chelsea - Barcelona Vs Atletico di RCTI dan beIN Sports 1

"Kalau dicari pendamping Jokowi representasi islam-TNI, Gatot (Nurmantyo,-red). Mudah-mudahan kalau Jokowi berpasangan dengan Gatot semua akan kena stroke politik," kata dia.

Menurut dia, Jokowi perlu didampingi cawapres yang berkomitmen dan loyal. Dia melihat Gatot sudah menunjukan hal itu saat memimpin prajurit TNI membantu Polri mengamankan aksi massa pada 4 November dan 2 Desember 2016.

Dia menjelaskan, aksi unjuk rasa 212 mengusung gerakan super damai. Sekitar 7 juta orang memadati lapangan Monas di Jakarta Pusat. Di kesempatan itu, hadir Presiden Jokowi yang memmanfaatkan sebagai energi melawan isu Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA).

Baca: Gila! Pramugari Garuda Ini Selain Pakai Sabu Juga Doyan Ngisap Kokain, Cinta Membawa Petaka

"Perlu wapres yang punya komitmen dan loyalitas. Memang ideal ke depan, Jokowi-Gatot," tutur Faisal.

Selain Gatot, ada nama-nama lain, seperti Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono. Namun, Faisal menilai melihat rekam jejak dari keduanya belum mampu mendampingi jenderal bintang empat tersebut.

"Anies mempunyai hubungan dengan jaringan saudagar pak JK (Jusuf Kalla,-red) publik ragu. Tidak mungkin Agus (Harimurti Yudhoyono,-red) pangkat mayor. Diambil Anies dan Agus, maka pak Jokowi akan terjebak," tambahnya.

Hai Guys! Berita ini ada juga di TRIBUNNEWS.COM

Editor: Didik Trio
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved