B Focus Urban Life

Panjang Jalan Tetap, Setiap Tahun Kendaraan Bertambah 7.000 Unit, Bayangkan Macetnya Banjarmasin

KOTA Banjarmasin mengalami pertambahan kendaraan, diperkirakan 7.000 unit per tahun.

Panjang Jalan Tetap, Setiap Tahun Kendaraan Bertambah 7.000 Unit, Bayangkan Macetnya Banjarmasin
banjarmasinpost.co.id/apunk
Penerapan arus lalu lintas satu jalur di Jalan RE Martadinata, depan Kantor Wali Kota Banjarmasin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - KOTA Banjarmasin mengalami pertambahan kendaraan, diperkirakan 7.000 unit per tahun.

Belum lagi pertambahan kendaraan di daerah penyangga, Kabupaten Baritokuala, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanahlaut.

Nah, pertambahan kendaraaan di kota ini tak diimbangi dengan penambahan jalan yang ada.

"Jalan yang ada, itu-itu saja. Sementara, Banjarmasin mengalami pertambahan kendaraan, diperkirakan 7.000 unit per tahun. Belum lagi pertambahan kendaraan di daerah penyangga. Supaya tidak terjadi kemacetan, makanya perlu rekayasa lalu lintas," kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin, Ichwan Noor Khalik.

Baca: Gila! Suvenir Nominator Piala Oscar 2018 Bernilai Rp 1,3 Miliar, Termasuk Hadiah ke Wisata Tanzania

Baca: Waw Jet Ski di Piala Oscar 2018 Bakal Diberikan Untuk Pemenang yang Tak Banyak Bicara

Baca: Mirisnya! Wanita Tunawisma Ini Ternyata Ibu dari Pemain Bintang Arsenal Bergaji 500 Juta Per Minggu

Ditambahkannya, kendaraan bermotor di Banjarmasin hampir 300.000 lebih.

Sementara, panjang jalan nasional hanya 36 kilometer, jalan provinsi hanya 16 kilometer dan jalan-jalan kota itu 790 kilometer.

"Kalau tidak ada rekayasa lalu lintas, pasti akan terjadi kemacetan luar biasa seperti di Jakarta," tukasnya.

Menurutnya, Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin telah sukses melakukan rekayasa lalu lintas, dengan menutup sejumlah titik putar balik (u turn), seperti di Jalan Pangeran Antasari, Jalan Brigjen Hasan Basri, Jalan A Yani Km 1 dan Jalan RE Martadinata.

"Awalnya banyak penolakan dengan penutupan titik putaran tersebut karena masalah kebiasaan masyarakat saja. Orang protes dan teriak-teriak. Tapi lama-lama, pengguna jalan itu menerima," tandasnya.

Ichwan menegaskan, seperti di nasional, itu memang tak boleh banyak titik untuk putar balik.

Terlalu banyak akan mengakibatkan kemacaten. Jika tak terlalu banyak, maka kendaraaan akan dapat melaju tanpa hambatan.

"Dari sejumlah titik putar balik yang sudah kami tutup, pengguna jalan telah bisa menerima dan sukses. Untuk kemacetan di Jalan S Parman, sekarang pun masih dalam kajian permasalahanya dan dicarikan solusi. Apakah nanti kami kurangi waktu durasi lampu merahnya atau bagaimana," imbuh mantan Kasatpol PP Kota Banjarmasin ini.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved