Kriminalitas Tanahlaut

Terdakwa Pencabulan Bocah di Kelurahan Saranghalang, Keberatan Divonis 9 Tahun dan Denda Rp 1 Miliar

Terdakwa Pencabulan bocah di Kelurahan Saranghalang, Kecamatan Pelaihari, Muhammad Rachmat Fabanyo keberatan

Terdakwa Pencabulan Bocah di Kelurahan Saranghalang, Keberatan Divonis 9 Tahun dan Denda Rp 1 Miliar
mukhtar wahid
Penasihat hukum terdakwa, Hj Sunarti 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Terdakwa Pencabulan bocah di Kelurahan Saranghalang, Kecamatan Pelaihari, Muhammad Rachmat Fabanyo keberatan dengan putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari.

Itu dikatakan Humas Pengadilan Negeri Pelaihari, Boedi Haryantho dikonfirmasi membenarkan bahwa kasus dengan terdakwa Fabanyo mengajukan banding atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari.

Sebelumnya jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Tanahlaut dan penasihat serta terdakwa menyatakan pikir-pikir dengan putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari, berupa pidana penjara sembilan tahun dan denda Rp 1 miliar subsider penjara satu tahun.

Baca: Awas Mogok! Banjir di Landasan Ulin Masih Tinggi

Itu dikatakan Humas Kejaksaan Negeri Tanahlaut, Stirman Eka Priya Samudera dikonfirmasi terkait putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari atas kasus Fabanyo.

"Kasus itu divonis 28 Februari pak. KPU dan terdakwa pikir-pikir," kata Stirman Eka Priya Samudera.

Penasihat hukum terdakwa, Sunarti mengaku sudah menyiapkan berkas memori banding terhadap keberatan dengan putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari.

Itu karena putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari itu lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum, yaitu pidana penjara enam tahun dan membayar denda Rp 10 juta subsider penjara enam bulan penjara jika tak dapat membayar denda.

"Ini sesuai keinginan terdakwa dan keluarga terdakwa. Hari ini permohonan banding atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari sudah kami daftarkan di Pengadilan Negeri Pelaihari. Saya sudah sampaikan resikonya kepada terdakwa dan kerabatnya," ujar Sunarti ditemui di kantornya, Selasa (6/3/2018).

Sunarti menduka jika terdakwa mengajukan banding atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari. Sangat mungkin jaksa penuntut umum juga mengajukan banding agar tidak terjadi kasasi.

"Ini kebiasan saja. Jika terdakwa banding, jaksa penuntut umum pasti banding juga," katanya.

Menurut Sunarti sudah menjadi tugasnya sebagai penasihat hukum terdakwa membuat memori banding atas kliennya dengan pertimbangan terdakwa ingin mengajukan permohonan keringan hukum agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah.

"Terdakwa sudah menyiapkan persyaratan untuk kuliah di Politeknik negeri Tanahlaut. Terdakwa juga menyesali perbuatannya dan tak berani lagu berbuat pidana," katanya.

Sunarti mengaku sudah memberikan arahan kepada terdakwa bahwa jika keberatan dengan putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Pelaihari, Sangat mungkin putusan majelis hakim tinggi di Banjarmasin akan lebih tinggi, lebih rendah atau bebas. (Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help