Berita Kotabaru

Bangunan DAM Swadaya di Sungai Mandin Dipersoalkan, Pengelola Minta Ini Pada PDAM Kotabaru

Keberadaan DAM swadaya yang dikelola sangat membantu kebutuhan air bagi warga khususnya di wilayah Mandin

Bangunan DAM Swadaya di Sungai Mandin Dipersoalkan, Pengelola Minta Ini Pada PDAM Kotabaru
banjamasinpost.co.id/helriansyah
Wakil Bupati Ir H Burhanudin, Direktur PDAM saat meninjau banguan DAM swadaya di Sungai Mindin yang dipersoalkan 

BANJARMASINPOST.CO.ID,KOTABARU - Bangunan DAM swadaya warga di wilayah Mandin yang dipersoalkan PDAM karena dinilai akan mengganggu suplai air baku ke instalasi pengolahan air (IPA), bahkan ada rencana pemerintah daerah membongkar bangunan tersebut menuai protes pihak pengelola.

Ragil, ketua pengelola DAM swadaya melalui sambungan telepon, Rabu (7/3/2018) menyayangkan sikap PDAM yang akhir-akhir jni mempersoalkan bangunan DAM tersebut.

Namun, Ragil juga menyayangkan sikap pemerintah daerah selama ini dinilai masih kurang memperhatikan kebutuhan air bagi masyarakat di wilayah Mandin.

"Tapi begitu Mandin bisa berdiri sendiri, dipermasalahkan sama PDAM," ucap Ragil.

Baca: Link Live Streaming RCTI Bali United vs FLC Thanh Hoa Piala AFC 2018 Hari Ini Pukul 14.00 WIB

Apalagi kata dia, dengan keberadaan DAM swadaya yang dikelola sangat membantu kebutuhan air bagi warga khususnya di wilayah Mandin, sekarang dengan jumlah lebih 400 pelanggan swadaya.

"PDAM itukan dari dulu belum pernah ada masuk ke Mandin ini. Dari tahun 1999 berdiri sendiri di Mandin ini," ungkap Ragil.

Kemudian dijelaskan Ragil, sebagai bukti DAM swadaya sangat dibutuhkan masyarakat. Bangunan DAM yang sekarang ini dipersoalkan, sebelumnya dibangun dari kegiatan Dinas Ciptakarya dan Tata Ruang Kotabaru.

Karena dipersoalkan pihak PDAM, kegiatan tidak dilanjutkan dan bangunan pun sudah dibongkar. Namun karena desakan warga, bangunan dilanjutkan dengan menggunakan dana swadaya masyarakat. Sebab bangunan DAM yang lama sudah tidak mampu melayani kebutuhan air masyarakat Mandin.

"Pengelola tidak ada bisnisnya. Bayarnya sebulan Rp 10 ribu bagi warga asli setempat. Rp 20 ribu bagi rumah yang baru-baru (pendatang)," katanya.

Halaman
123
Penulis: Herliansyah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help