Hoaks Musuh Kita

Menyiarkan berita bohong dan ujaran kebencian haram hukumnya, karena dapat menimbulkan perasaan ketakutan, perpecahan, permusuhan,

Hoaks Musuh Kita
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

MARAKNYA penyebaran hoaks (berita bohong dan ujaran kebencian) disiarkan melalui media sosial, seperti Facebook, WhatsApp, Twitter, Instagram, Line, merupakan dampak buruk globalisasi di bidang teknologi komunikasi dan informatika, yang tidak terkontrol.

Penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian ini, sangat bertentangan dengan ajaran agama dan nilai budaya bangsa Indonesia. Apapun bentuknya, hoaks ini musuh kita, harus dilawan bersama agar tidak lebih banyak lagi merusak moral anak bangsa.

Sebagaimana dirilis BPost (6/3/2018), Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, H Zainut Tauhid mendukung upaya Polri memberantas hoaks dan ujaran kebencian yang banyak ditemui di media sosial. Siapa pun pelakunya, harus ditindak tegas.

Menyiarkan berita bohong dan ujaran kebencian haram hukumnya, karena dapat menimbulkan perasaan ketakutan, perpecahan, permusuhan, yang dapat menimbulkan kerusakan dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Sebelumnya difatwakan, setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan ghibah (membicarakan keburukan dan aib orang lain), fitnah, penyebaran permusuhan, aksi bullying (perundungan), ujaran kebencian dan permusuhan antarsuku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Juga diharamkan memproduksi, menyebarkan dan membuat konten atau informasi yang tidak benar kepada masyarakat. Kegiatan buzzer di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoaks, ghibah, fitnah, gosip dan lain-lain sebagai profesi, juga dilarang atau diharamkan.

Memang sebagai anak bangsa, kita prihatin maraknya penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian tersebut. Dengan demikian, beberapa pihak harus segera mengambil langkah antisipatif. Pertama, orangtua agar memperketat pengawasan terhadap anak-anak mereka.

Kedua, guru supaya meningkatkan pendidikan budi pekerti terhadap siswa. Ketiga, penegak hukum agar bertindak tegas terhadap siapa pun. Dan keempat, ulama serta pemuka agama lebih meningkatkan pembinaan umat berbudi pekerti mulia.

Bukankah ini amat penting dari segalanya, sebab upaya mengantisipasi agar generasi muda dan anak bangsa, tidak teracuni oleh musuh bersama yang bernama hoaks tersebut. Dan sudah semestinya proaktif keluarga, yakni membentengi ketahanan moral dan ajaran agama di rumah tangga.

Jika demikian, secara terus-menerus dan lebih serius beberapa pihak tadi berupaya mempersempit ruang gerak penyiaran dan penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian, yang kini jadi ancaman bangsa.

Betapa berbahayanya, sehingga semua komponen bangsa dituntut bahu-membahu meningkatkan pengawasan. Lebih penting lagi, agar generasi penerus bangsa ini terbebaskan dari penyebaran berita bohong, sebagai dampak negatif globalisasi dan kemajuan teknologi informatika.

Tujuan akhir, jaminan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat, bangsa dan negara secara umum, sehingga tidak ada ruang lagi bagi penyebar –kalau tidak dikatakan musuh bersama– hoaks ini, demi melindungi anak bangsa. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved