Jangan Kambinghitamkan Hujan

Tidak hanya warga yang sedang dalam perjalanan menikmati kemacetan luar biasa karena jalanan tergenang cukup parah.

Jangan Kambinghitamkan Hujan
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

Selasa, 6 Maret 2018, sejumlah titik di sekitar Bandara Syamsuddin Noor tergenang banjir. Meski durasinya hanya dalam hitungan jam, tetap saja sempat membuat aktivitas warga terganggu.

Tidak hanya warga yang sedang dalam perjalanan menikmati kemacetan luar biasa karena jalanan tergenang cukup parah. Sejumlah warga yang sedang ‘santai’ di rumah pun harus panik, lantaran air tiba-tiba masuk ke ke rumah dan merendam sejumlah perabotan.

Kegusaran warga ini terjadi, karena sudah lama mereka ‘tidak menikmati’ genangan sebagaimana yang terjadi kemarin lusa di sekitar Landasan Ulin itu. Analisa liar pun kemudian bermunculan di media sosial.

Ada yang menyebut karena intestias hujan memang sangat deras. Ada yang menganalisa, bila mendadak genangan itu terjadi karena sungai menyempit. Ada pula yang menyebut lantaran ada banyak lahan yang sebelumnya menjadi resapan air, kini telah berubah menjadi ‘ladang beton.’

Secara spesifik, memang belum ada penjelasan soal penyebab ‘mendadak tergenang’ itu. Satu-satunya fakta yang terbantahkan adalah, pada hari Selasa itu intensitas hujan memang cukup tinggi terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) utamanya bagian selatan.

Cukupkah penjelasan soal cuaca itu? Tentu saja tidak. Seharusnya, kejadian ‘mendadak banjir’ itu menjadi momentum bagi semua pihak (Pemerintah daerah) di Kalsel, untuk memulai memikirkan tata ruang yang anti-banjir.

Dengan kesadaran penuh, penguasa daerah seharusnya mulai memikirkan dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh, kebijakan untuk menyeimbangkan pengurangan kawasan resapan air itu dengan penambahan volume saluran air.

Secara eksak, penambahan saluran air itu tidaklah sulit direncanakan dan dilakukan. Misalnya, ketika intensitas hujan maksimal di sebuah wilayah berada pada angka tertentu, maka diperlukan kemampuan resapan tanah pada angka tertentu.

Maka, setiap ada kegiatan yang berdampak pada pengurangan daya serap tanah, saat itu pula harus dilakukan upaya membuat saluran air yang berkapasitas (volume dan kecepatan aliran) sama dengan fungsi serap tanah yang hilang.

Rekayasa saluran air (selokan, kali, sungai, bozem atau apapun namanya), adalah hal yang paling mungkin dilakukan untuk mengantisipasi banjir yang nyata-nyata sudah menjadi masalah di banua. Sebab, mengembalikan alam pada kondisi semula, hanya bisa dilakukan ‘mesin waktu’.

Dengan upaya kongkret itu, kita tidak sekadar menyalahkan hujan sebagai biang mendadak banjir yang (sudah) terjadi di banua. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved