Orang Super Tajir

Menariknya adalah, jika dijumlahkan, kekayaan 10 orang terkaya Indonesia mencapai 79,95 miliar Dollar AS atau setara Rp 1.079 triliun.

Orang Super Tajir
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

Majalah Ekonomi terkenal asal Amerika Serikat, Forbes merilis daftar orang terkaya di dunia 2018. Ada 2.000 orang paling tajir dari 78 negara di dunia masuk dalam daftar itu. CEO sekaligus bos raksasa e-commerce Amazon, Jeff Bezos tampil jadi jawaranya dengan jumlah kekayaan 112 miliar Dollar AS atau sekitar Rp 1.512 triliun.

Lantas, adakah warga negara Indonesia di jajaran elite orang terkaya dunia? Jawabannya ada. Dia adalah Robert Budi Hartono, Pemilik perusahaan rokok Djarum, Bank Central Asia (BCA) dan aneka usaha raksasa lainnya. Kekayaan Budi Hartono ‘hanya’ 12,2 miliar dolar atau 162,2 triliun rupiah, masih jauh dari jumlah harta Jeff Bezos. Tak heran, Budi bercokol di peringkat 126 daftar orang terkaya di dunia.

Namun, di Indonesia, Budi berada di peringkat pertama orang paling tajir, diikuti adiknya Michael Hartono. Forbes juga merilis daftar 10 orang terkaya di Indonesia 2018, dengan tak banyak perubahan nama, di antaranya Chairul Tanjung, Prayogo Pangestu dan Peter Sondakh.

Menariknya adalah, jika dijumlahkan, kekayaan 10 orang terkaya Indonesia mencapai 79,95 miliar Dollar AS atau setara Rp 1.079 triliun. Adapun total kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia jika dijumlahkan mencapai 126 miliar Dollar AS setara Rp 1.701 triliun dengan kurs: Rp 13.500. Jumlah itu naik dari tahun lalu yang 99 miliar Dollar AS. Menjadi pertanyaan adalah, apakah peningkatan harta orang-orang superkaya itu berdampak pula pada Indonesia? Jika melihat pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2018 sebesar Rp 2.220,6 triliun, jumlah harta 50 orang terkaya Indonesia itu sekitar 5 persen dari APBN. Tentu bukan jumlah yang sedikit dan harusnya bisa menggerakkan roda ekonomi Indonesia lebih bagus lagi.

Di Indonesia, masih ada 26,58 juta (10,12 persen) rakyat negeri ini hidup di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan dimaksud menurut versi Badan Pusat Statistik (BPS) adalah penghasilan minimum Rp 361.990 per kapita per bulan. Lebih jelasnya adalah, orang berpenghasilan di bawah Rp 361.990 adalah orang miskin, sementara di atas itu tidak miskin.

Memang, ada beragam program pengalihan subsidi yang dijalankan, mulai Kartu Indonesia Pintar (KIP), BPJS sosial dan lainnya. Tapi, bukan kah progam itu untuk yang miskin? Bagaimana dengan mereka yang setengah miskin, di atas sedikit dari miskin atau yang hidup sederhana namun serba pas-pasan? Oleh karena itu, 2018-2019 jadi ajang bagi pemerintahan Jokowi untuk membuktikan apa yang selama ini disampaikan seperti pertumbuhan ekonomi 5 persen lebih, utang kepada lembaga pengutang macam IMF telah lunas dan pesatnya pembangunan infrastruktur berdampak bagi perekononomian Indonesia. Sebab, jika tidak, berartinya, ketimpangan ekonomi itu masih nyata, dan tampak terlihat adanya. Ini PR pemerintahan sekarang dipimpin Presiden Joko Widodo untuk menyelesaikannya. Tapi, jika rakyat tak percaya dengan metode yang diterapkan pemerintah sekarang, silakan tentukan pilihan di Pilpres 2019 mendatang. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help