Kesendirian di Era Medsos

Apa yang Anda kerjakan segera setelah bangun tidur? Tiga perempat dari anak muda Amerika berusia 18 hingga 24 tahun mengatakan,

Kesendirian di Era Medsos
bpost
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Apa yang Anda kerjakan segera setelah bangun tidur? Tiga perempat dari anak muda Amerika berusia 18 hingga 24 tahun mengatakan, mereka langsung membuka ponsel. Rata-rata, menurut survei eMarketer, orang Amerika menghabiskan 5,5 jam sehari untuk teknologi digital, dan lebih dari separuhnya untuk ponsel. Menurut sebuah studi di Inggris, rata-rata orang membuka ponselnya 221 kali sehari.

Demikian antara lain dipaparkan oleh Jacob Weisberg dalam “We are Hopelessly Hooked” yang terbit di The New York Review of Books, Februari 2016. Artikel ini mengulas empat buku, yaitu karya Joseph M. Reagle Jr, Guru Besar Ilmu Komunikasi di Northeastern University, karya Nir Eyal dan Ryan Hoover dari Standford’s Graduate School of Business dan dua karya Sherry Turkle, Guru Besar psikologi di Harvard.

Saya belum menemukan kajian ilmiah mengenai penggunaan ponsel pintar di Indonesia. Sementara itu, kajian-kajian yang dilakukan para ilmuwan Barat di atas kiranya dapat menjadi cermin bagi kita. Para ilmuwan itu berusaha menelaah berbagai dampak negatif dari penggunaan ponsel pintar, khususnya terkait media sosial, dan langkah yang sebaiknya diambil untuk mengurangi dampak negatif tersebut.

Aplikasi medsos, kata Reagle dan Eyal, memang didesain agar orang terus-menerus ingin tahu dan terlibat dengan yang sedang hangat. Inilah yang disebut FOMO (Fear of Missing Out), yakni takut ketinggalan. Apa yang kini dilakukan teman-temanku? Apa pandangan mereka terhadapku? Apa pula pandanganku terhadap mereka? Perasaan ini membuat orang lengket pada ponsel dan medsos.

Karena itu, banyak orang yang kecanduan ponsel. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, yang disentuh dan dielus tiada lain daripada ponsel. Ponsel seolah berhala, yakni ciptaan manusia yang membuat manusia tunduk kepadanya. Sekali lagi, kecanduan ini memang sengaja direkayasa oleh pembuat aplikasi medsos dengan menyediakan tombol suka dan komentar sehingga emosi dan rasa ingin tahu orang terbakar.

Demikialah, jika ditinjau secara ilmiah, selain teknologi, para pembuat aplikasi itu menerapkan psikologi dan antropologi untuk mengikat pengguna. Misalnya, aplikasi itu lebih menyentuh emosi ketimbang nalar. Mungkin ini sebabnya, dalam bermedsos orang cenderung emosional dan faksional. Debat yang berapi-api tanpa berkesudahan seringkali terjadi. Diskusi di medsos jarangkali menghasilkan solusi.

Selain itu, media sosial yang dapat menghubungkan manusia satu sama lain justru menggerus kualitas hubungan itu. Tak jarang, orang sibuk berhubungan melalui ponsel dengan teman yang jauh, sementara teman bahkan keluarga yang di depan mata tidak dipedulikan. Padahal, hubungan melalui alat itu tidak sepenuhnya nyata. Dia hadir sekaligus absen. Hubungan semacam itu bisa mereduksi kemanusiaan kita.

Kita tentu maklum bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dia hidup bermasyarakat (dari kata Arab: musyârakah artinya bersekutu). Namun, kata Sherry Turkle, manusia perlu sesekali menyendiri jika dia ingin memahami dirinya dan orang lain. Orang yang terkoneksi terus-menerus dengan orang lain tanpa ada kesempatan untuk merenung sendirian akan kehilangan kemampuan untuk memahami orang lain.

Karena itu, Sherry Turkle menyarankan agar kita secara sadar mengendalikan diri dalam menggunakan ponsel. Batasi waktu penggunaannya. Jangan berlebihan. Utamakan percakapan berhadap-hadapan ketimbang melalui media. Tinggalkan ponsel saat berbincang dengan tamu, sahabat atau saat makan bersama keluarga. Cari kegiatan yang lebih menarik dan bermanfaat dibanding bermedsos belaka.

Akhirnya, saya sungguh terkesan dengan anjuran Turkle agar kita sesekali dalam sehari menyendiri dan merenung. Kita perlu menembus irisan tipis antara diri pribadi kita dan orang lain. Kita sama sekaligus berbeda. Bagi kaum beriman, manusia juga perlu sendiri bersama Yang Maha Sendiri (alone with Alone). Hanya dengan cara itulah kiranya, keseimbangan antara kesendirian dan kebersamaan dapat tercipta! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help