Cerita Kepala Suku Dayak Meratus

'Diganggu Orang' Alianto Pernah Gagal dan Tak Bisa Menuruni Pohon Manau Berduri di Loksado

Dijelaskan Alianto dalam sesajen itu harus ada beras, telur dan lainnya seabagai sesembah dan penghormatan kepada dewa-dewa.

'Diganggu Orang' Alianto Pernah Gagal dan Tak Bisa Menuruni Pohon Manau Berduri di Loksado
banjarmasinpost.co.id/salmah
Alianto Kepala Suku Dayak Meratus Halong, Balangan 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Memanjat atau menaiki manau dari Dayak Meratus Balangan bermula dari sejarah yaitu sayembara untuk mendapatkan gadis yang merupakan putri raja.

Uji nyali dan pastinya ilmu kanuragan itu terus berlanjut menjadi tradisi. Namun tidak semua bisa melakukan, hanya orang-orang berilmu dan keturunan pemanjat manau saja yang mampu memanjat.

Dalam setiap atraksinya, Alianto pun harus melakukan beberapa ritual tertentu, di antaranya membuat sesajen agar atraksi berjalan aman dan lancar.

Baca: Sakti, Panjat Batang Manau Berduri, Tak Ada Luka di Kaki Kepala Suku Dayak Meratus

Baca: Memanjat Batang Manau Berduri Ternyata Tradisi Memperebutkan Putri Raja di Kawasan Meratus

Dijelaskan Alianto dalam sesajen itu harus ada beras, telur dan lainnya seabagai sesembah dan penghormatan kepada dewa-dewa.

"Itu juga untuk memindah kuyang (mahluk halus) penunggu manau agar pindah ke pohon lain," ujar Alianto.

Istilahnya, lanjut bapak delapan anak dari dua istri ini, manau itu ditukari (dibeli) sehingga saat dibawa untuk atraksi sudah aman dari gangguan dari mahluk alam lain.

Saat masih di rumah, Alianto juga memasakan piduduk (sejenis sesajen) yang biasanya berupa makanan, minuman dan buah-buahan.

Halaman
12
Penulis: Salmah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help