Home »

Kolom

» Tajuk

Semua (Kok) ke Jokowi?

Sinyal dukungan dari berbagai partai untuk Jokowi pada pesta 2019 mendatang, memperlihatkan kekuatan dan posisi riil

Semua (Kok) ke Jokowi?
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

SEPERTI ada yang mengomando, partai-partai lansung tancap gas memproses penggodokan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) untuk diusung pada Pilpres 2019. Partai Golkar dan Nasdem berada di garis start terdepan mengusung Joko Widodo (Jokowi) untuk kembali berkompetisi meraih kursi RI-1.

Kelatahan pun tampaknya menggejala pada partai-partai lainnya. PDI Perjuangan yang merupakan habitat politik Jokowi melalui ketua umumnya Megawati Soekarnoputri langsung menetapkan mantan wali kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu untuk kembali maju dalam pilpres 2019. Tidak ketinggalan partai-partai pendatang baru seperti Perindo besutan Hari Tanoesudibyo dan Partai Solidaritas Indonesia yang digawangi jurnalis Grace Natalie ikut berada di gerbong pendukung Jokowi. Demikian pula partai berbasis Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) –meski belum mendeklarasikan siapa yang bakal diusung nanti. Namun, melihat keduanya saat ini berada dalam koalisi pendukung pemerintah, tampaknya keduanya bakal ‘memilih aman’ untuk bersama-sama Jokowi.

Dan, terakhir, Partai Demokrat yang dikomandani mantan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengirim sinyal (dukungan) pula untuk Jokowi. Sinyal verbal itu tersirat dari pidato SBY saat membuka Rakernas, Sabtu (10/3) dimana ikut hadir pula Jokowi pada acara tersebut.

Sinyal dukungan dari berbagai partai untuk Jokowi pada pesta 2019 mendatang, memperlihatkan kekuatan dan posisi riil terhadap bekas juragan furnitur tersebut.

Bagaimana dengan partai-partai politik lainnya dan calon-calon lawan Jokowi kompetisi kursi RI-1 2019 mendatang? Sudah pasti, Partai Gerindra, partai yang selama ini ‘memilih’ berseberangan dengan pemerintah, tampaknya tidak mungkin untuk ikut-ikutan Golkar Cs. Partai ini sudah pasti bakal mengusung Prabowo Subianto, sang komandan partai untuk kembali berhadap-hadapan dengan Jokowi seperti pilpres 2014 lalu.

Pertanyaaannya, siapa saja yang bakal masuk gerbong Gerindra, hingga memang kini masih belum terlihat jelas partai apa saja. Partai Keadilan Sejahtera yang selama ini selalu berjalan seiring dengan Gerindra, pun masih belum ‘membisiki’ petinggi di Partai Gerindra kalau ingin tetap bersama pada kontes pilpres mendatang. Namun, keduanya memiliki kedekatan secara emosional. Jadi sangat mungkin, keduanya bakal kembali bersama.

Lantas bagaimana dengan Partai Amanat Nasional, PPP dan PKB? Salah satu petinggi di PAN mewacanakan poros baru – di luar gerbong Jokowi maupun Prabowo. Partai berbasis Islam-Nasionalis ini menilai masih ada dua partai selain PAN yang belum mendeklarasikan capres yaitu PKB dan Demokrat. Terlebih Demokrat masih belum pasti siapa bakal diusung, dan hanya baru memberi sinyal kepada Jokowi. Demikian pula PKB yang masih meraba-raba, dan masih melihat apakah sang ketua umumnya, Muhaimin Iskandar digaet Jokowi untuk maju menjadi wakil presiden. Setidaknya, PAN melihat jika PKB, dan Demokrat bergabung sudah cukup persyaratan untuk mengusung calon presiden sendiri karena punya modal kursi sebesar 27,85 persen.

Bagaimanapun, secara matematis bisa saja seperti yang diinginkan PAN. Namun harus diketahui bahwa politik tidak pernah bisa diukur secara matematis. Yang ada hanyalah bagaimana arah angin (politik) bertiup. Terbukti kita lihat bagaimana banyak partai politik satu koor suara memilih Jokowi maju sebagai capres. Pastinya, dukungan itu tentu tidak gratis. Ada bargaining yang nantinya berimbal-balik bagi elite di partai politik pendukung. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help