Menguak Pulau Endemis Malaria

Mendengar Namanya Saja Orang Merinding, Penyakit Mematikan Siap Menunggu

Sejak lama orang mengenalnya pulau ini dengan sebutan pulau endemis penyakit mematikan Malaria.

Mendengar Namanya Saja Orang Merinding, Penyakit Mematikan Siap Menunggu
Istimewa
Pulau Matasirih merupakan salah satu pulau berpenghuni di Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Kalsel. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Namanya Pulau Matasirih. Pulau ini merupakan salah satu pulau berpenghuni di Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru, Kalsel.

Sejak lama orang mengenalnya pulau ini dengan sebutan pulau endemis penyakit mematikan Malaria.

Sekilas kabar pulau yang dianggap 'mengerikan,' karena tidak sedikit orang yang takut begitu mendengar Pulau Matasirih, yang ada dibenak mereka tentang endemis malaria.

Baca: Ngeri! Bukan Ditangkap Biasa, Ternyata Polisi Harus Dor Dua Kaki Bripka Suparmin Sebelum Ditangkap

Khususnya bagi mereka, warga pendatang yang ingin ke pulau yang letaknya di selat Jawa bagian selatan Kalimantan tersebut.
Sebelum menginjakan kaki di pulau itu, terlebih dulu memperkebal diri dengan mengonsumsi obat malaria agat tidak mudah terserang.

Pulau Matasirih dinyatakan daerah endmis malaria, bukan saja berdasarkan data atau penelitian petugas Dinas Kesehatan Kotabaru dan Provinsi Kalsel. Namun juga hasil penelitian dari peneliti luar Indonesia.

Baca: Hasil Liga Champion - Gol ke-100 Lionel Messi Terjadi Usai Bungkam Chelsea 3 Gol Tanpa Balas

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kotabaru Hajjah Ernawati membenarkan, pulau Matasirih endemis Malaria. Bukan hanya hasil penelitian dilakukan dinas kesehatan, tapi juga dari pihak luar.

Menurut Ernawati, pulau Matasirih menjadi penghasil Malaria, disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pertemuan air hujan dengan air laut yang berubah payau sehingga menghasilkan bibit nyamuk malaria.

Namun juga disebabkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Dengan masih adanya kebiasaan warga yang membiasakan diri buang air besar (BAB) tidak menggunakan jamban.

Kendati sebagai daerah endemis, kata Ernawati, warga tetap bertahan tinggal di pulau Matasirih karena keterbiasaan beradaptasi dengan faktor alam tersebut.

"Mungkin karena sudah terbiasa, sehingga seperti tidak ada masalah. Padahal kejadian ini besar dan membesar. Dan mau tidak mau karena kehidupan mereka di sana. Mata pencarian kehidupan. Jadi kebal untuk mereka," jelasnya.

Berbeda dengan warga pendatang, saat menginjakan kaki ke sana harus dilakukan langkah antisipasi.

"Dan, kamipun kalau mau masuk ke sana harus meminum obat. Antisipasi lebih dulu," tandas Ernawati.

(BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah)

Penulis: Herliansyah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved