Novel Udin

INI bukan cerita bersambungnya kisah Wartawan Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafrudin, yang mati dianiaya orang tak dikenal.

Novel Udin
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

INI bukan cerita bersambungnya kisah Wartawan Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafrudin, yang mati dianiaya orang tak dikenal. Kisah Udin memang menarik, dari mulai dia mencari info, membuat berita, kemudian malam-malam dianiaya. Polisi tidak menemukan pelakunya, lalu bikin cerita ngawur, orang tak salah dijadikan tersangka. Cukup berliku, layak menjadi sebuah novel.

Tapi yang dimaksud novel dalam tulisan ini adalah Novel Baswedan, penyidik handal dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang jadi korban penyiraman air keras hingga kedua matanya nyaris buta. Kisah Udin dan Novel berbeda, tempatnya pun berjauhan, persoalannya juga tidak bersinggungan. Tapi senapas, sama-sama dianiaya orang tak dikenal, sama-sama gelap siapa pelakunya dan sama-sama tidak bisa ditemukan.

Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal sepulang dari masjid di dekat rumahnya pada 27 April 2017 subuh. Kedua matanya rusak, yang kanan hanya bisa melihat samar-samar sedang yang kiri sama sekali belum bisa melihat. Ia dirawat di Singapura dan baru pulang bulan Februari lalu dalam kondisi belum sehat. Dia masih akan ke Singapura lagi untuk menjalani operasi yang sama entah untuk berapa kalinya.

Yang menarik, selama hampir setahun ini polisi belum bisa menemukan pelakunya. Beberapa petunjuk lewat CCTV di rumahnya tidak bisa membantu. Beberapa orang yang ditangkap karena terlihat berseiweran di dekat rumah Novel sebelum peristiwa terjadi, dilepaskan lagi dengan alasan mereka hanya “mata elang”, pegawai dealer motor yang bertugas mengawasi pergerakan motor yang nunggak kredit. Apa Novel Baswedan menunggak kredit motor?

Novel juga sudah menunjukkan beberapa indikasi, baik yang berkaitan dengan hubungan kerja di kantor maupun di luar. Dia malah bilang ada jenderal dibelakang kasusnya. Saat peristiwa terjadi Novel Baswedan tengah menangani perkara besar.

Beberapa kali Presiden Joko Widodo memerintahkan agar Polri segera mengungkap kasusnya, tapi tak juga berhasil. Terkesan polisi kurang tanggap. Sekarang malah menunggu Novel sembuh dulu. Yang belum dilakukan adalah pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang di dalamnya terdapat unsur yang netral.

Beda lagi dengan kasusnya Udin, yang tewas dianiaya orang tak dikenal di teras rumahnya, Bantul, Yogyakarta. Entah tujuannya mau membunuh atau sekadar melumpuhkan, tapi potongan besi yang digunakan menghajar kepalanya pada 13 Agustus 1996 malam akhirnya menewaskannya setelah tiga hari tak sadarkan diri di RS Betesdha, tepatnya 16 Agustus 1996 dalam usia 32 tahun.

***

Penanganan kasus Udin tidak memuaskan insan pers yang menilai pelacakannya kurang maksimal. Misalnya, tim penyidik malah membuang barang bukti, seperti darah Udin yang dibuang ke laut selatan. Penyidik yang melakukan itu tidak dihukum, tapi dipindah ke Mabes Polri, jadi malahan selamat dari hingar bingar kasus Udin.

Seseorang yang dijadikan tersangka, Dwi Sumaji alias Iwik, dibebaskan oleh pengadilan karena tidak terbukti. Sejak awal orang curiga dengan penangkapan Iwik, terasa asal-asalan. Memang tidak mudah mengungkap kasus yang tidak ada saksinya, tapi polisi kita cukup cekatan bahkan brilyan. Teroris banyak yang bisa diringkus, padahal keluarganya yang serumahpun tidak tahu ia teroris.

Kasus Udin terjadi saat teknologi belum secanggih sekarang, tapi tentu bukan karena alasan itu lantas pelakunya tetap gelap, segelap malam sepi yang menemani Udin sekarat setelah dianiaya. Orang hanya mengaitkan peristiwa itu ada hubungan dengan berita-berita Udin yang kritis bahkan mengarah pada seorang pejabat di Kabupaten Bantul, DIY. Tapi pemeriksaannya tidak mengarah kesana, malahan warga yang tidak tahu menahu dijadikan tersangka.

Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dan wartawan yang giat menelusuri kasus ini tetap berharap polisi bisa menemukan pelakunya. Mungkin polisi-polisi yang dulu menangani sudah banyak pensiun, tapi kasusnya tentu tidak bisa dipensiun begitu saja. Rakyat masih yakin profesionalisme polisi bisa mengungkap kasus Udin maupun Novel Baswedan.

Kasus Udin yang sudah berlangsung 22 tahun sepertinya sudah dilupakan. Tragisnya Harian Bernas, tempat Udin bertugas hingga akhir hayatnya, kini menyusul Udin, mati dan berhenti terbit per 1 Maret 2018 dalam usianya yang ke 72 karena tak mampu bersaing dengan media-media lain yang kini bertebaran.

Novel dan Udin akan menjadi catatan tersendiri dalam khasanah pengungkapan kasus yang penuh misteri. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved