Utang = Orkestrasi Kehidupan

UTANG. Satu kata ini memang simpel namun punya makna amat dalam. Dan, jujur kata ini (utang) selalu terdengar tidak ramah di telinga kita.

Utang = Orkestrasi Kehidupan
BPost Cetak
Ilustrasi 

UTANG. Satu kata ini memang simpel namun punya makna amat dalam. Dan, jujur kata ini (utang) selalu terdengar tidak ramah di telinga kita. Pertengahan pekan lalu kita pun dibuat terhenyak ketika Kementerian Keuangan mengumbar jumlah utang luar negeri pemerintah hingga akhir Februari 2017 menembus angka US$352,2 miliar atau sekitar Rp 4.849 triliun (kurs Rp13.769).

Tumpukan utang luar negeri ini naik 13,46 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3.556 triliun. Dan, klaim pejabat di Kementerian Keuangan jumlah utang luar negeri kita masih terjaga pada level aman. Dengan kata lain, timbunan utang itu lebih rendah dari batas yang ditetapkan dalam UU Keuangan Negara No 17 Tahun 2003 dimana total utang pemerintah terhadap PDB (produk domestik bruto) paling besar 60 persen. Sementara rasio utang Indonesia terhadap PDB Indonesia terkunci di angka 27,9%.

Cukup bisa dibenarkan kata ‘aman’ ini. Soalnya, angka rasio utang terhadap PDB kita jauh lebih rendah dibanding negara-negara kaya seperti Jepang (250 %), Amerika Serikat 106 %, Inggris (89%), Perancis (96%) dan Kanada (92%), Inggris (89%), Jerman (68%), dan China (64,20%) , Jerman (68%), Inggris (89%), Perancis (96%) dan Kanada (92%) yang rata-rata di atas 60 persen. Bahkan, jika dibandingkan dengan negara yang setara seperti India 69%, Vietnam 63,4%, Thailand 41,8 %) dan Brazil 81,2 persen.

Dan, kita tahu pemerintahan Jokowi kini memang tengah gencar menggenjot pembangunan infrastruktur di seluruh negeri. Untuk membiayai itu semua, Jokowi mengaku membutuhkan anggaran sedikitnya Rp 5.000 triliun. So pasti, untuk membiayai itu semua, pemerintah tidak bisa mengandalkan dari APBN apalagi APBD. Nah, jalan paling mudah yakni menarik simpati investor dari luar dengan menerbitkan surat utang.

Pertanyaannya aman atau tidak cara demikian? Jelas, secara awam, utang yang kita miliki pasti tidaklah sedikit, Terlebih bunga dan cicilan dibayar dengan cara ‘gali lubang tutup lubang’ melalui pajak.

Sementara penerimaan pajak sumber dana untuk membayar utang luar negeri, tak sesuai realisasi dimana pemasukan pada 2017 hanya mencapai Rp 1.151 triliun atau ‘hanya’ 89,7% dari target pada APBN-P 2017.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kondisi itu bakal berimbas pada risiko fiskal yang bisa membuat pasar keuangan Indonesia menjadi rapuh dan mudah sekali timbul gejolak. Dan, acap kali para pemangku kebijakan di negeri ini mengatakan agar rakyat tidak perlu khawatir dengan besarnya utang karena pemerintah sanggup untuk melunasinya. Namun dari fakta sejarah sulit rasanya kita mencerna apa yang digampangkan oleh para pemangku kebijakan. Terbukti, dari waktu ke waktu setiap pemegang kekuasaan tidak bisa mengerem keinginannya berutang demi menjaga eksistensi pemerintahannya. Jadi tidak perlu heran kalau ‘dosa warisan’ (utang) tetap menjadi rangkaian estafet dari satu tangan penguasa ke tangan penguasa lainnya. Dan, rasanya kita pun semua sepakat bahwa utang adalah bagian dari orkestrasi kehidupan! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help