Tapuk Kampung Pebisnis Arang di HST

Ditawari Modal Perbankan, Perajin "Dunia Hitam" Lebih Senang Dimodali Pembeli

Kendala yang dihadapi perajin arang halaban di Desa Tapuk, Kecamatan Limpasu, HST, adalah permodalan

Ditawari Modal Perbankan, Perajin
banjamasinpost.co.id/hanani
Salah satu lokasi pembuatan arang halaban di Desa Tapuk, Limpasu HST 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Salah satu kendala yang dihadapi perajin arang halaban di Desa Tapuk, Kecamatan Limpasu, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, adalah permodalan. Kebanyakan warga mengandalkan modal sendiri. Adapula yang mendapat modal dari perusahaan mitra yang membeli hasil produksi mereka. Namun, untuk harga, dibeli sesuai harga pasaran.

Seperti dilakukan M Noor (38). “Dulu sebelum dimodali perusahaan, kami hanya bisa memproduksi sedikit, karena hanya memiliki tiga tungku. Sekarang, bisa menggandeng perajin-perajin yang lain, dengan bantuan modal perusahaan pembeli. Ini lebih mudah, karena kami tinggal melakukan proses pembakaran. Mulai bahan kayu sampai karung kemasan, dan proses pengangkutan,  pembeli yang menyediakan,”tutur M Noor.

Baca: Membuat Arang BerkualitaS Ekspor Perlu Keahlian Khusus Tak Ada Teori, Begini Rahasianya

Baca: Arang Halaban Tapuk Diminati Dunia, Hasil Produksinya Dikirim ke Jepang hingga Jordania

Baca: Sempat Terpuruk, Bisnis Dunia Hitam di Kampung Tapuk HST Kini Jadi Sumber Pendapatan Utama

Dia mengakui, beberapa pihak perBankan sering datang menawarkan bantuan modal. Namun, kebanyakan perajin menolak, dengan alasan, takut tak bisa membayar rutin. “Masalahnya, tak selalu produksi kami berhasil. Seperti musim hujan, sering juga gagal, karena tungku kemasaukan air sehingga kualitas pembakarannya tak sempurna,”jelas M Noor.

Selain masalah tersebut, perajin kata dia juga takut jika telat membayar, di denda. “Bunga yang ditawarkan memang rendah. Tapi kami lebih suka dimodali langsung oleh pembeli, karena tanpa bunga,”katanya. Syaripudin, perajin lainnya, juga mengaku enggan menggunakan pinjaman bank. “Saya merasa lebih nyaman pakai modal sendiri, dan memproduksi semampunya,”katanya.

Baca: Kabar Nike Ardilla Disebut Guru Sekumpul Tak Ditanya Malaikat Dibantah, Begini Penjelasan MUI Kalsel

Baca: Masya Allah Ini Kelebihan Guru Sekumpul, Bisa Melihat Alam Gaib, Hingga Bertemu Cucu Rasulullah SAW

Berapa keuntungan yang didapat? Satu truk kayu terdiri 5 ton arang halaban. Jika sudah dibakar, menghasikan satu ton  atau Rp 1000 kilogram bersih. Satu kilogram dijual Rp 3.000 sehingga dalam satu ton mendapatkan Rp 3 juta. Dikurangi modal Rp 1.600 dan upah pekerja antara Rp 500 ribu, keuntungan bersih per ton. “Jadi keuntungan per ton kisaran satu Rp 1 juta lebih.

Tapi hitung-hitungan tadi tidak tetap seperti itu, kadang dalam satu truk menghasilkan  lebih dari satu ton, tapi minimal sau ton. Walau tak begitu besar, Alhamdulillah bisa menambah pendapatan keluarga, ketimbang mengandalkan hasil karet yang belum membaik,”kata M Noor. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help